Press "Enter" to skip to content

Sekelumit Kisah Sejarah PETA yang Jadi Cikal Bakal TNI (1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pemuda Indonesia dalam pelatihan di Seinen Dojo yang kemudian menjadi anggota PETA

Sedikit dari generasi muda yang ingat bahwa hari ini merupakan hari peringatan aksi heroik Pemberontakan Tentara PETA (Pembela Tanah Air). Pemberontakan tersebut terjadi di kota Blitar, Jawa Timur pada 14 Pebruari 1945 atau sekitar 6 bulan sebelum dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan RI.

Agar serpihan sejarah tersebut tidak terlupakan begitu saja, ada baiknya untuk mengenang sekelumit kisah sejarah PETA yang dikemudian hari melahirkan tokoh-tokoh besar di negeri ini dan menjadi cikal bakal dari TNI (Tentara Nasional Indonesia). 

Latar Belakang Pembentukan PETA

Pembentukan PETA berawal dari surat yang ditulis Raden Gatot Mangkoepradja dan ditujukan kepada Gunseikan atau Pemimpin Tertinggi Pemerintahan Militer Jepang yang berkedudukan di Jakarta pada pada bulan September 1943.

Isi dari surat tersebut intinya adalah sebuah permohonan agar Pemerintah Militer Dai Nippon membentuk tentara milisi atau tentara sukarelawan yang berasal dari penduduk pribumi untuk dapat membantu Jepang dalam perang melawan pasukan Sekutu.

Bendera PETA

Surat permohonan yang dilayangkan Gatot Mangkoepradja tersebut sudah barang tentu disambut dengan baik oleh Jepang  karena Dai Nippon juga membutuhkan kehadiran tentara milisi untuk membantu dalam Perang Asia Timur Raya. Dengan adanya usulan dari salah satu pemimpin Indonesia, tentunya akan lebih mudah bagi Jepang dalam merekrut para pemuda untuk bergabung ke dalam pasukan tentara milisi.

Itu sebabnya dalam persiapan pembentukan PETA, sejumlah nama Tokoh Islam dan Ulama besar ikut pula dilibatkan, seperti: Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, KH. Aabdul Madjid, KH Djunaedi, H. Mohammad Sadri, H. Mansur, H. Cholid, H. Jacob dan H. U. Mochtar.

Masuknya tokoh-tokoh Islam dan ulama-ulama besar tersebut membuat bendera Tentara PETA pun diwarnai simbol keislaman berupa lambang bulan sabit dan bintang, disamping adanya lambang yang menjadi ciri khas kekaisaran Jepang yaitu matahari terbit.

Tepat pada 3 Oktober 1943, Panglima Tentara ke-16, Letjend Kumakichi Harada pun mengumumkan terbentuknya PETA berdasarkan maklumat Osamu Seirei No. 44. Tempat pendaftaran sekaligus pusat pelatihan tentara PETA dipusatkan di kompleks militer bernama Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai yang berada di Bogor.

Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944

Mereka yang selesai menjalani pelatihan selanjutnya ditempatkan di berbagai wilayah di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera hingga terbentuk 66 batalion di Jawa, 3 batalion di Bali serta 20.000 personil di Sumatera. Jumlah keseluruhan anggota PETA pernah mencapai hingga 38.000 orang atau empat kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kekuatan tempur Jepang yang ada di negaranya.

Sama halnya dengan organisasi kemiliteran yang lain, dalam organisasi kemiliteran PETA terdapat sistem kepangkatan. Pangkat tertinggi adalah Daidanco yang menjadi komandan batalion. Daidanco ini diisi para pejabat, tokoh-tokoh agama dan para abdi negara.

Dibawah Daidanco ada Cudanco yang memimpin sebuah kompi. Dibawah Cudanco adalah Shodanco yang memimpin peleton. Dibawahnya lagi ada Budanco yang memimpin regu, dan para prajurit yang posisinya paling bawah berpangkat Giyuhei.

Tentara milisi dibawah bendera PETA tersebut tidak hanya sekedar bisa bertempur tapi juga menguasai ilmu dan strategi kemiliteran karena mendapatkan pelatihan dari pasukan militer Jepang. (bersambung) (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.