Press "Enter" to skip to content

Mahasiswa China Berang Ada Orasi Aktivis Uighur di Kampus!

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Rukiye Turdush, penulis dan aktivis HAM yang dilaporkan mahasiswa China ke konsulat atas orasinya tentang Uighur

Diskusi, seminar, pembicaraan seputar Uighur yang dilakukan para aktifis menyebar sangat luas di kampus baik itu di dunia nyata maupun lewat media sosial.

Sekelompok mahasiswa China di Universitas McMaster, Ontario, berang kepada Rukiye Turdush, seorang aktivis yang vokal mengkritisi perlakuan rejim Cina terhadap Uighur begitu mengetahui bahwa aktivis wanita ini akan menyampaikan presentasi tentang penahanan massal minoritas Muslim yang wilayah Cina.

Para mahasiswa China ini geram karena Rukiye Turdush diberikan kesempatan untuk melakukan orasi. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut kepada pemerintah China untuk ditindaklanjuti.

Saat Rukiye Turdush memberikan presentasinya sore itu, salah seorang mahasiswa asal China yang berada di tengah penonton merekamnya, lalu berteriak dan menyerbu wanita yang berdomisili di Toronto ini keluar.

Mahasiswa yang tidak disebutkan namanya ini kemudian menulis dalam WeChat bahwa mereka telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar China tentang acara tersebut. Mereka kemudian menulis bahwa mereka mengirim foto ke pejabat terkait di Cina.

Pada hari berikutnya, kelompok mahasiswa Cina ini menerbitkan sebuah “buletin” tentang orasi Turdush. Buletin itu, yang ditandatangani bersama oleh lima kelompok mahasiswa McMaster, termasuk Asosiasi Mahasiswa dan Ilmuan China (CSSA), mencatat bahwa mereka telah melakukan kontak dengan Konsulat China di Toronto.

Kejadian di McMaster menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa China yang berada di kampus-kampus di luar negeri menjadi tangan-tangan propaganda pemerintah dan menekan adanya kritik tetap rejim Beijing.

Perdebatan, perbedaan pandangan, suasana panas dalam berdiskusi sebenarnya suatu hal yang lumrah di kehidupan kampus. Namun ketika sesuatu hal berlanjut hingga melibatkan konsulat, kedutaan suatu negara untuk melakukan sebuah ancaman, seperti yang dilakukan mahasiswa China tersebut, hal ini sudah melewati garis batas kewajaran.

David Mulroney, yang pernah menjabat sebagai duta besar Kanada untuk China dari 2009 hingga 2012, mengatakan, “Seperti banyak hal yang melibatkan China, ada hal-hal yang dapat diterima hingga yang tidak dapat diterima.”

Gord Arbeau, direktur komunikasi di McMaster, mengatakan universitas itu mengetahui kejadian tersebut tetapi masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami akan sangat keberatan jika ada yang merasa mereka di bawah tekanan dan pengawasan saat menghadiri sebuah acara di kampus,” katanya. “Ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebebasan berbicara yang kami miliki di McMaster.”

Menurut Biro Pendidikan Internasional Kanada, ada 140.000 mahasiswa China di Kanada pada tahun 2017.

 

Sumber: www.washingtonpost.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.