Press "Enter" to skip to content

Sekelumit Kisah Sejarah PETA yang Jadi Cikal Bakal TNI (2)

  •  
  •  
  •  
  •  

Pemberontakan PETA

Pemberontakan PETA

Sejak PETA dibentuk hingga pasukannya ditempatkan di berbagai daerah di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera, mereka praktis tidak pernah dibawa Jepang ke negara-negara lain untuk bertempur melawan Sekutu sebagaimana prajurit Heiho. Tugas tentara PETA hanya sebatas menjaga keamanan di dalam negeri termasuk mengawasi para romusha yang tidak lain adalah warga pribumi, bahkan banyak diantara mereka yang merupakan sanak saudara mereka sendiri.

Melihat penderitaan warga pribumi yang menjadi pekerja paksa, muncul kebencian terhadap Jepang serta semangat untuk melakukan perlawanan pada diri prajurit-prajurit PETA. Terlebih sejak awal diusulkannya pembentukan PETA, tujuan utamanya bukan untuk membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, melainkan untuk menyerap ilmu kemiliteran dari para prajurit Jepang.

Perlawanan prajurit PETA terhadap Jepang diawali oleh Shodancho Supriyadi yang mulai melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dan menghubungi komandan-komandan batalyon PETA di berbagai daerah sejak  September 1944. Rencana untuk melakukan pemberontakan tersebut didasari dengan tujuan untuk melakukan revolusi menuju kemerdekaan Indonesia.

Rupanya rencana pemberontakan yang dipimpin oleh Supriyadi tersebut tercium oleh Kempetai (polisi rahasia Jepang), sehingga rencana pimpinan militer Jepang untuk mengadakan pertemuan besar seluruh komandan dan pasukan PETA di Blitar dibatalkan.

Kondisi tersebut membuat Supriyadi dan pasukannya menghadapi situasi yang sulit. Disatu sisi, jika memaksakan diri untuk melakukan pemberontakan, mereka hampir dipastikan kalah, baik dari sisi jumlah pasukan maupun persenjataan. Namun, apabila tidak melakukan pemberontakan, mereka hampir bisa dipastikan akan ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena telah menyusun rencana pemberontakan.

Setelah membuat pertimbangan yang matang, akhirnya pada malam hari, 13 Pebruari 1945, Supriyadi memutuskan untuk melaksanakan rencana semula yaitu melakukan pemberontakan, tanpa berpikir nantinya akan dapat dikalahkan oleh para prajurit Jepang.

Keesokan hari, tepatnya pada 14 Pebruari 1945 pukul 03.00, dibawah pimpinan Shodancho Supriyadi membombardir Hotel Sakura yang ditempati para perwira militer Jepang, begitu juga dengan markas kempetai.

Tidak disangka, kedua bangunan  tersebut ternyata telah dikosongkan, karena rencana pemberontakan PETA sebelumnya memang telah tercium. Tidak hanya itu, Supriyadi juga gagal menggerakkan satuan yang lain, sehingga pemberontakan tersebut praktis gagal total.

Sebaliknya, Jepang yang dengan segera mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan, dalam waktu yang tidak terlalu lama berhasil mendesak Tentara PETA. Dinas Propaganda Jepang melalui Kolonel Katagiri selanjutnya menemui salah satu pemimpin pemberontakan yaitu Shodancho Muradi dan meminta agar seluruh Prajurit PETA yang memberontak menyerahkan diri ke markas batalyon.

Monumen Pemberontakan PETA di Blitar

Muradi bersedia mematuhi perintah tersebut dengan syarat: senjata prajurit PETA yang memberontak tidak dilucuti dan para pemberontak tidak diperiksa serta diadili. Persyaratan tersebut disetujui oleh Katagiri dan sebagai jaminan dia menyerahkan pedangnya sebagai janji seorang samurai yang harus ditepati.

Niat baik Katagiri tersebut ternyata tidak dapat diterima oleh Pimpinan Militer Tentara Jepang XVI dan Jepang justru malah mengirimkan Kempetai untuk mengusut tuntas pemberontakan yang dilakukan Prajurit PETA. Akhirnya para perwira dan prajurit PETA sebanyak 78 orang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara sebelum dibawa ke Jakarta untuk diadili. Setelah menjalani sidang, pada tanggal 16 Mei 1945, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati di Ancol, 6 orang harus mendekam di penjara seumur hidup dan sisanya divonis sesuai dengan tingkat kesalahan mereka.

Semenjak peristiwa itu, nasib Shodancho Supriyadi tidak pernah diketahui, seolah menghilang secara  misterius tanpa ada satu orangpun yang mengetahui keberadaannya. Ada yang mengatakan Supriyadi tewas saat bertempur melawan Jepang, ada yang mengatakan Supriyadi tewas diterkam harimau di hutan sekitar Blitar,  ada yang meyakini Supriyadi menjalani laku ritual dengan menceburkan diri ke kawah Gunung Kelud, dan tidak sedikit yang mempercayai kalau Supriyadi masih hidup hingga saat ini hanya saja tidak ada orang yang tahu keberadaannya karena Supriyadi tinggal di alam ghaib.

Baca juga: Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (1)

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno mengangkat Supriyadi menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan RI pertama. Namun karena Supriyadi tidak pernah muncul untuk selama-lamanya, jabatan tersebut akhirnya diberikan kepada Imam Muhammad Suliyoadikusumo. Pemerintah RI yang mengakui jasa-jasanya, akhirnya mengangkat Supriyadi sebagai Pelopor Kemerdekaan dan sebagai Pahlawan Nasional.

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Tentara Kekaisaran Jepang meminta kepada seluruh prajurit PETA untuk menyerahkan senjata mereka sebagaimana hasil dari perjanjian Kapitulasi Jepang dengan Sekutu. Pembubaran PETA sendiri disetujui oleh Soekarno, karena jika tidak dibubarkan maka pihak Sekutu akan menganggap Indonesia bekerjasama dengan Jepang karena memperbolehkan Jepang menciptakan pasukan milisi. Selanjutnya, pada 19 Agustus 1945, PETA resmi dibubarkan melalui pidato yang disampaikan Penglima Tentara Jepang ke-16 di Jawa, Letjend Nagano Yuichiro.

Meski umur PETA tidak sampai 2 tahun namun peranan dari para prajurit PETA sangat penting selama Perang Kemerdekaan Indonesia. Mantan prajurit PETA, pasca kemerdekaan juga banyak yang menjadi tokoh-tokoh penting dalam bidang kemiliteran seperti mantan presiden Soeharto, Jenderal Soedirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Basuki Rahmat, Letjend Sarwo Edhi Wibowo, Jenderal Wirahadikusuma, Jenderal Poniman, Letjend Kemal Idris, letjend Soepardjo Roestam dan Letjend GPH Djatikoesoemo.

Mantan prajurit PETA itu pula yang membidani pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat), sebelum berubah menjadi TkR (Tentara Keamanan Rakyat), Tentara Keselamatan Rakyat, TRI (Tentara Republik Indonesia) hingga TNI (Tentara Nasional Indonesia). Sehingga tidak salah jika PETA disebut sebagai embrio dari TNI. (AGK)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.