Press "Enter" to skip to content

Misteri Pertemuan Rahasia Jokowi dengan Bos Freeport

  •  
  •  
  •  
  •  
Sudirman Said dan James Robert Moffett

Di tengah semakin memanasnya suhu politik di tanah air, sebuah pernyataan mengejutkan disampaikan oleh mantan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Sudirman Said pada sebuah acara diskusi yang berlangsung di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 20/02/2018.

Anggota BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo – Sandi ini menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah diungkap oleh siapapun, yakni pertemuan rahasia antara Presiden Joko Widodo dengan Jim Moffet yang tidak lain adalah mantan pimpinan pusat Freeport. Pertemuan tersebut terjadi pada bulan Oktober 2015, di tengah-tengah berlangsungnya renegoisasi perpanjangan kontrak Freeport yang melakukan penambangan emas di Papua.

“Saya mengungkapkan, karena ini merupakan hak publik untuk tahu dibalik keputusan itu,” kata Said di hadapan peserta diskusi.

Lebih lanjut Said bercerita bahwa pertemuan rahasia yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 tersebut tidak terjadwal di agenda presiden yang disusun Sekneg dan kala itu Said masih menjabat sebagai Menteri ESDM.

“Saat itu, pada pagi hari saya diminta oleh ajudan presiden untuk menghadap ke Istana Merdeka. Sebelum memasuki ruang kerja, asisten pribadi presiden membisiki saya, ‘Pak Menteri, pertemuan ini tidak ada’,” cerita Said.

Begitu bertemu dengan Presiden, tanpa basa-basi Jokowi langsung memerintahkan Said untuk mempercepat proses renegoisasi kontrak dengan Freeport. “Kira-kira (yang disampaikan Jokowi), kita ingin menjaga kelangsungan investasilah,” kata Said.

Selanjutnya, Said bersama Moffet melanjutkan pertemuan di tempat lain. Ternyata, Bos Freeport tersebut sudah menyiapkan surat perpanjangan kontrak. Tentu saja Said merasa terkejut dan menolak permintaan Moffet untuk menggunakan surat perpanjangan kontrak yang redaksinya sama dengan yang dibawa Moffet dari kantor pusat Freeport.

Setelah bertemu dengan Moffet Said kemudian menemui Jokowi lagi usai naskah yang disiapkan Freeport oleh jajarannya di Kementrian ESDM dikoreksi dan dipastikan tidak akan merugikan Indonesia.

Saat itu, masih cerita Said, Jokowi merasa terkejut karena redaksi surat dari kantor pusat Freeport, ternyata tidak menunjukkan keinginan yang kuat untuk memiliki mayoritas saham Freeport Indonesia.

“Komentar Pak Presiden waktu itu, ‘Lho kok begini saja (Freeport) sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi sebetulnya diberi saja,” tutur Said.

Namun demikian, tambah Said, Freeport ternyata mengambil keuntungan dari disetujuinya naskah yang mereka persiapkan.  Publikasi atas kesepakatan renegoisasi tersebut menjadikan saham Freeport semakin menguat di pasar modal Amerika, sehingga keuntungan yang mereka peroleh juga lebih banyak. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.