Press "Enter" to skip to content

Black Campaign Emak-emak Pepes, Teroris Politik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Emak-emak Relawan Pepes

Tertangkapnya 3 orang ibu-ibu yang diduga merupakan relawan Pepes (Partai Emak-emak Pendukung Prabowo – Sandi), karena melakukan kampanye door to door dengan menyebarkan berita bohong yang mendiskreditkan Jokowi – Ma’ruf, mengundang keprihatinan dari sejumlah pihak.

Salah satu diantaranya adalah Dosen Politik dan Pemerintahan UGM, Arya Budi, yang menilai bahwa street campaigner yang dilakukan emak-emak tersebut memiliki dua perspektif, pertama dari sisi lawan politik mereka merupakan korban elite sedang dari sisi pendukung mereka adalah alat politik.

Arya sangat menyayangkan jika ternyata para relawan tersebut bukan merupakan korban melainkan alat politik yang sengaja dibekali untuk selanjutnya diminta menyebarkan hoaks. “kalau mereka mempercayai hoaks lalu menyebarluaskan, tentu sangat disayangkan,” kata Arya.

Senada dengan Arya, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Adi Prayitno menyampaikan, dalam konteks kasus Pepes, emak-emak tersebut merupakan korban dari Tim Sukses yang kurang memberikan edukasi kepada mereka. Hal inilah yang membuat Adi mengaku sedih saat melihat fenomena emak-emak yang harus yang harus berhadapan dengan hukum.

“Tim Sukses dan semua relawan, harusnya dibekali materi tentang anjuran dan larangan seperti apa dalam berkampanye. Mereka sebatas emak-emak, hanya menerjemahkan hal-hal yang diucapkan para elite. Banyak diantara mereka yang nggak paham dan nggak tahu isi UU Pemilu,” kata Adi sambil menyebutkan bahwa BPN Prabowo – Sandi semestinya ikut bertanggung jawab dengan memberikan bantuan hukum kepada ketiga orang ibu dari Pepes yang telah mengirbankan hidup mereka untuk memenangkan Prabowo – Sandi.

Adanya dugaan ibu-ibu dari Pepes tersebut dimanfaatkan oleh kubu BPN juga disampaikan Wakil Direktur Komunikasi TKN (Tim Kampanye Nasional) Jokowi – Ma’ruf, Arya Sinulingga, yang menurutnya ada dua kemungkinan yang menjadi latar belakang emak-emak Pepes tersebut sampai bersikap demikian, pertama karena mengikuti cara elite BpN yang suka menyebarkan hoaks dan politik ketakutan dan kedua karena aksi tersebut memang sudah dirancang oleh Tim Sukses.

“Ini ibu-ibu apa sengaja dikorbankan, agar masyarakat kalau menyerang menjadi ragu? Ini tidak etis. Kami melihatnya seperti dipergunakan. Kita semua tahu, betapa mengerikannya kasus Ratna Sarumpaet. Omongannya sangat mengerikan. Begitu juga dengan Neno. Saya lihat senada dan satu frame. Apa karena memang dirancang? Apa ini fenomena teroris politik? Bom bunuh diri politik yang jadi tumbal?” ungkap Arya.

Menanggapi aksi ibu-ibu yang menciderai proses demokrasi tersebut, Anggota Dewan Pengarah BPN Prabowo – Sandi, Fadli Zon menolak jika BPN dituding telah memerintah para relawan untuk melakukan black campaign. Begitu juga dengan Prabowo dan Sandiaga Uno, tidak pernah memerintah para relawan untuk menjelek-jelekkan Jokowi dan Ma’ruf Amin.

“Kampanye kami kampanye positif,” tegas Fadli Zon pada 26/02/2019 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.

Kalimat Fadli Zon tersebut diperkuat oleh juru bicara BPN, Andre Rosiade, yang balik menuding bahwa analisis yang mengatakan kalau ibu-ibu tersebut sebagai korban terlalu bertendensi.

“Pernyataan mereka itu hoaks. Ibu-ibu itu mungkin banyak yang tidak tahu dan terlalu bersemangat. Tapi kami sudah menyampaikan apa saja yang boleh dan tidak dalam berkampanye,” terang Andre.

Relawan Pepes, tambah Andre, selama ini sudah sesuai dengan koridor yang ada yaitu mengkampanyekan tentang pertumbuhan ekonomi, kebijakan ekonomi sampai dengan kurangnya lapangan pekerjaan, dan cara berkampanye ketiga orang ibu yang kini telah dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian bukan cara Pepes. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.