Press "Enter" to skip to content

China Perlu Indonesia, Atau Indonesia Perlu China?

  • 49
  •  
  •  
  •  
  •  
    49
    Shares
Ilustrasi: Invasi Kekaisaran Mongol ke Nusantara

Ambisi imperialisme China mulai terasa pelan-pelan semenjak negeri komunis itu mulai melancarkan proyek raksasa yang dinamakan Belt and Road Initiative. Sebuah proyek yang diatas kertas bertujuan untuk membangun kembali jalur perdagangan internasional.

Namun kenyataannya negara-negara yang ikut serta dalam proyek tersebut harus menanggung utang yang luar biasa besar hingga terpaksa merelakan aset-aset strategis nasionalnya untuk dikuasai China. Srilangka, Djibouti, dan beberapa negara di Pasific, serta barangkali Indonesia akan menjadi korban berikutnya.

Khususnya Indonesia, melihat situasi pemilu 2019 yang begitu rawan konflik dan perpecahan, media yang tidak seimbang, aparat yang berpihak, ketahanan nasional yang semakin rapuh harusnya menjadi sebuah peringatan. Peringatan akan adanya ambisi luar biasa untuk menguasai NKRI menjadikannya “Soft Colony” untuk kepentingan pihak-pihak yang berada dibelakang kekacauan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pemilu di Indonesia.

Baca juga: Beredar Iklan Pemilu Coblos Jokowi-Amin Berbahasa China!

China, sebuah negara besar yang memiliki sejarah peradaban yang panjang Tidak pula dapat dipungkiri bahwa sejarah menunjukkan China juga memiliki ambisi imperialisme yang sangat besar. Sejarah mencatat bahwa China dibawah Khubilai Khan pernah mencoba menjadikan nusantara sebagai bagian dari kekaisarannya.

Pada periode 1260-1294 China dibawah Kubilai Khan berada dalam masa kejayaan. Ambisi imperialisme China memaksa Kaisar Jepang memberikan upeti yang besar demi keamanan negaranya. Ambisi tersebut juga sampai ke nusantara yang saat itu termasuk dalam wilayah kerajaan Singasari dibawah pimpinan Raja Kertanegara.

Ambisi Imperialisme China Semenjak Era Kekaisaran Mongol hingga Era Modern

China mengirim Meng Qi beserta bala tentaranya untuk memaksa Singasari tunduk dibawah kekaisaran Kubilai Khan serta membayar upeti yang besar. Namun sayang sekali, Raja Kertanegara menolak hal tersebut dan murka. Utusan Meng Qi dan rombongannya diusir kembali ke China. Meng Qi sendiri di cap wajahnya dengan besi panas dan telinganya dipotong sebagai tanda penolakan dan kemarahan Raja Kertanegara.

Nilai Strategis Indonesia di mata China.
Pada era modern, ambisi China menguasai dunia kembali hidup. Indonesia tetap menjadi target untuk dikuasai. Namun mengingat bahwa China adalah negara dengan perekonomian terkuat kedua di dunia, seberapa pentingkah Indonesia di mata China?

Sebenarnya, China selalu lebih membutuhkan Indonesia dan bukan sebaliknya. Tanpa Cina, Indonesia masih dapat melakukan bisnis dengan negara-negara asia timur lain seperti Jepang dan Korea, atau bahkan dengan negara-negara timur tengah. Mengingat politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

China perlu Indonesia untuk mengembangkan perekonomian dan pengaruh politik. Tanpa Indonesia, pengaruh politik China akan berkurang secara dramatis, karena Indonesia adalah anggota terpenting ASEAN.

Selain itu, Indonesia adalah satu-satunya negara dengan populasi Muslim terbesar, yang memiliki sekitar 13,1% dari jumlah Muslim dunia. Pengaruh Indonesia akan terhadap dunia muslim akan menjadi aset berharga China untuk kepentingan ekonomi dan politiknya.

Secara geografis Indonesia memiliki peran penting untuk menjaga keamanan nasional China, khususnya mengamankan jalur pelayaran untuk sumber daya alam, pangan, dan keamanan energi negeri komunis tersebut.

Hal ini yang menjadi jawaban kenapa Cina perlu Indonesia dan bukan sebaliknya. Sebuah proyek jangka panjang untuk membuat nusantara tunduk perlahan-lahan. Bisa jadi, salah satunya adalah dengan turut berperan dibelakang layar dalam kontestasi politik di Indonesia saat ini. Benar atau tidaknya, waktu akan menentukan dan sejarah akan mencatat semuanya.**

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.