Press "Enter" to skip to content

Kartu-kartu Sakti Hanya Gimmick Jokowi

  •  
  •  
  •  
  •  
Jokowi dengan Kartu Saktinya

Jika pada Pilpres 2014 Joko Widodo mengeluarkan 3 Kartu Sakti yang terdiri atas KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera), maka 3 Kartu Sakti lainnya kembali akan diluncurkan oleh Jokowi sebagai janji kampanye pada Pilpres 2019. Ketiga Kartu Sakti yang dimaksud adalah KSM (Kartu Sembako Murah), KIP-Kuliah (Kartu Indonesia Pintar untuk Kuliah) dan KPK (Kartu Pra Kerja).

Sebagai janji dari seorang calon presiden, rencana penerbitan ketiga Kartu Sakti yang terakhir tersebut sudah barang tentu mendapat sorotan dari lawan-lawan politiknya serta pihak-pihak yang mensinyalir bahwa penerbitan ketiga kartu Sakti itu hanya upaya Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas.

Itu sebabnya, Ketua Presidium Pergerakan, Andrianto berpendapat bahwa penerbitan ketiga Kartu Sakti tersebut akan sia-sia dan tidak akan menarik simpati masyarakat. “Menurut saya, itu bentuk usang yang didaur ulang. Terlihat kalau Jokowi sudah kehabisan ide dan kreativitas. Namun, masyarakat tidak bodoh,” kata Andrianto pada 04/03/2019.

Ketiga Kartu Sakti itu tidak akan mampu menggaet suara rakyat, menurut Andrianto, karena kinerja pemerintahan Jokowi masih jauh dari harapan rakyat. Berbeda halnya jika pada periode pertama kinerjanya sangat baik, atau setidaknya dapat memenuhi semua janji kampanye, penerbitan ketiga Kartu Sakti itu akan dapat mendongkrak elektabilitas petahana.

Pendapat senada juga disampaikan politisi Partai Gerindra, Desmond Junaidi Mahesa. “Masyarakat tidak akan terbius lagi oleh hal-hal yang berbau kayak gitu,” ungkapnya saat berada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada 04/03/2019.

Menurut Desmond, dalam Pemilu mendatang masyarakat sudah sangat rasional dan tidak akan tergiur lagi oleh janji-janji bantuan sosial. “Mereka sudah rasional, pilihan masyarakat bukan lagi karena sembako.”

Rencana Jokowi untuk kembali mengeluarkan 3 Kartu Sakti,  bagi Wakil Sekjend Partai Demokrat, Renanda Bachtiar hanya semacam gimmick, karena menjamin kehidupan sosial kemasyarakatan memang sudah menjadi kewajiban pemerintah. Selain itu, pemberian bantuan sosial kepada masyarakat bukan hanya di era pemerintahan Jokowi tapi sudah dilaksanakan oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

“Pada zaman SBY, bantuan yang diberikan kepada masyarakat kurang sejahtera termasuk  bantuan-bantuan sosial yang lainnya, jumlah tidak kalah banyak. Bedanya, bantuan tersebut diberikan tanpa gimmick dalam bentuk kartu-kartu,” papar Renanda.

Sementara itu ekonom CORE (Center of Reform on Economics), Piter Abdullah, menyampaikan tentang sisi positif dan negatif dari rencana peluncuran 3 Kartu Sakti. Dalam pandangannya, sisi positif dari peluncuran Kartu Sakti tersebut adalah adanya keseriusan dari Jokowi untuk membantu masyarakat kurang sejahtera agar dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu sembako dan pendidikan.

“Sayangnya, kebijakan tersebut tidak disertai konsep besar tentang bagaimana mensejahterakan masyarakat,” kata Piter, yang menambahkan bahwa program Kartu Sakti  yang akan diluncurkan Jokowi sifatnya hanya memberikan ikan dan bukan pancing serta tidak adanya keterkaitan antara program yang satu dengan yang lain.

Program pemerintah utamanya yang terkait dengan pendidikan menurut Piter semakin tidak jelas. “Di Singapura, bantuan pendidikan hanya diberikan sampai dengan SMA, karena kuliah sudah merupakan pilihan sehingga bukan lagi kewajiban pemerintah.”

Namun demikian Piter meyakini bahwa ketiga Kertu Sakti tersebut akan memberikan manfaat bagi masyarakat, meskipun masih belum maksimal. “Manfaatnya akan lebih maksimal jika program-program tersebut direncanakan terlebih dahulu secara terintegrasi dalam konsep besar untuk memberdayakan masyarakat.”

Munculnya sejumlah kritik dari kubu Prabowo, membuat Direktur Program TKN (Tim Kampanye Nasional) Jokowi – Ma’ruf, Aria Bima menyampaikan tantangan balik ke pihak BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo – Sandi, agar tidak hanya pandai membuat kritik tapi juga membuat program untuk menandingi program yang dibuat oleh Jokowi.

“Nggak apa-apa, kritik saja. 02 memang harus mengkritik,” kata Aria dengan nada bergurau.

Rencana diluncurkannya 3 Kartu Sakti yang merupakan salah satu janji kampanye Jokowi, kata Aria sebenarnya untuk menjawab kritik dari kubu oposisi terkait harga sembako, pendidikan dan lapangan kerja. Dengan ketiga Kartu Sakti tersebut, harapannya akan dapat memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa isu-isu negatif sebagaimana disampaikan pihak oposisi tidak akan terjadi. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.