Press "Enter" to skip to content

Kenapa Politisi Gemar Berbohong?

  • 15
  •  
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares
Berbohong adalah seni berpolitik?

Kiamat kian dekat, lekaslah bertobat. Pemilu sudah dekat, saatnya merakyat. Begitu istilah yang makin ‘viral’ dikalangan masyarakat baik itu di media sosial maupun dipercakapan sehari-hari.

Bukanlah sesuatu yang aneh menyaksikan kondisi dimana para politisi umumnya gemar berbohong dan mengumbar janji saat-saat menjelang pemilu. Politik adalah ibarat sebuah drama yang didalamnya penuh dengan intrik, sarat kepentingan, dan tarik-ulur kesepakatan. Seni berpolitik tak akan pernah lepas dari yang namanya janji. Rakyat yang seharusnya memiliki kekuatan besar dalam menentukan peta perpolitikan hanya menjadi obyek ketika sejumlah suara harus dikeruk sebanyak-banyaknya demi satu posisi.

Baca juga: Janji Politisi, Fiksi atau Fiktif?

Ini bukanlah memancing ikan lagi, ibarat seorang nelayan yang pergi melaut dimalam hari. Mereka harus memasang lampu yang terang benderang guna menarik perhatian ikan. Melepas umpan jikalau diperlukan, sebelum ikan dijala, ditangkap dan dimasukkan dalam kontainer penyimpanan.

Politisi menjelang pemilu pun tak beda polanya. Mereka dekati rakyat, mereka tebar janji yang terang benderang penuh pesona, melempar umpan makanan atau bantuan. Setelah mereka menangguk suara dan memastikan posisi, rakyat kembali termajinalkan.

Adakah politisi yang jujur? Mungkin ada, namun politisi yang gemar berbohong, gemar mengumbar janji seperti menjadi dominant. Kenapa mereka melakukannya? Mungkin hal-hal berikut bisa dijadikan alasan.

Mereka Tidak Akan Terpilih Jika Bicara Jujur!
Seorang politisi yang handal atau setidak-tidaknya memiliki tim yang kuat tentu memiliki data mengenai apa yang menjadi idaman mayoritas rakyat yang akan dijadikan obyek. Lapangan pekerjaan, misalnya adalah isu utama. Ada bahkan politisi yang tidak malu mengumbar janji menyediakan 10 juta tenaga kerja, meski sejarah akhirnya mencatat lain, namun saat itu rakyat begitu terlena. Mereka percaya dan mereka memilih.

Terpaksa Harus Menutupi Kebohongan Sebelumnya
Ketika seorang politisi telah ketahuan berbohong dan melupakan janjinya, bagaimana cara menutupi kebohongan tersebut? Seorang yang tengah berkuasa tentu tidak akan susah melakukannya. Media siap melakukannya. Menutupi kebohongan dengan memberitakan hal-hal yang positif bertubi-tubi meski untuk hal kecil. Melakukan akrobatik angka-angka statistik hingga terlihat baik. Menurunkan ambang batas miskin-kaya, sehingga terlihat seolah-olah tingkat kemiskinan berkurang.

Bahkan, di era millenial dimana media sosial bisa menjadi sebuah senjata doktrinisasi, pasukan buzzer bisa dibentuk untuk ‘membesarkan hal-hal kecil, mengkecilkan hal-hal yang besar’

Pemilih Memaksa Politisi Melakukan Hal-Hal Yang Tidak Mungkin
Entah kapan muncul istilah kontrak politik! Kontrak Politik bukanlah sesuatu yang haram dilakukan. Tapi adakalanya ia akan menjadi sebuah petaka, jika sekelompok masyarakat menuntut hal yang tidak mungkin. Politisi yang haus suara akan dengan ligat menangkap kesempatan tersebut meski mengetahui kalau janji yang dituliskan dalam kontrak tidak akan mungkin terealisasi.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.