Press "Enter" to skip to content

Bandung Lautan Api, Aksi Heroik Patriot Bangsa dalam Mempertahankan Kemerdekaan

  •  
  •  
  •  
  •  
Bandung Lautan Api

Di atas puncak Gunung Leutik, 24 Maret 1946 seorang wartawan muda bernama Atje Bastaman melihat kobaran api menyelimuti Kota Bandung, mulai dari Ciracas hingga Cimindi. Keesokan harinya, begitu kembali ke Tasikmalaya, peristiwa tersebut dia tulis dengan judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena ruang di koran Soeara Merdeka terbatas, oleh redaktur judul tulisan tersebut dipangkas menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

Istilah “Bandung Lautan Api” itulah yang kemudian digunakan untuk menamai sebuah peristiwa bersejarah pembakaran rumah milik sekitar 200.000 penduduk Bandung yang mereka lakukan sendiri dengan dibantu TRI (Tentara Republik Indonesia) dengan tujuan agar tidak digunakan sebagai markas militer oleh tentara Nica Belanda.

“Bandung Lautan Api” merupakan salah satu dari rangkaian peristiwa berkobarnya api revolusi sejak bulan Agustus 1945. Perang yang masih berkobar pasca proklamasi kemerdekaan membuat para pemuda pada 22 Agustus 1945 membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kemudian bermetamorfosis menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Tidak lama setelah TKR berdiri, pada 12 Oktober 1945 Bandung didatangi Tentara Sekutu dari Brigade 37 yang dipimpin Kolonel McDonald. Tentara Sekutu tersebut terdiri dari Tentara Inggris yang merupakan gabungan dari orang-orang Nepal (Gurkha) dan orang-orang India (Sikh) serta Tentara Belanda yang jumlahnya tidak begitu banyak.

Kedatangan Tentara Sekutu yang bersenjata lengkap tersebut, tidak hanya untuk melucuti Tentara Jepang yang kalah perang serta membebaskan tawanan Belanda dan Eropa, tapi juga mengantisipasi kemungkinan  terjadinya amuk massa oleh penduduk Indonesia kepada mereka  yang dianggap pro-Belanda. Karena itu Sekutu meminta agar TKR, laskar pejuang dan polisi menyerahkan senjatanya dibawah komando Sekutu.

Permintaan Tentara Sekutu tersebut ditolak mentah-mentah dan pejuang-pejuang Indonesia terus melakukan perlawanan sepanjang tahun 1945 – 1946 meski hanya bermodal senjata seadanya. Bahkan dengan berani para pejuang menyerang Hotel Preanger dan Hotel Savoy Homann di Bandung Utara yang jadi markas Tentara Inggris.

Karena serangan itulah, McDonald melalui Gubernur Jawa Barat pada 24 November 1945 mengultimatum dengan memerintahkan agar Bandung Utara dikosongkan. Ultimatum tersebut tidak dihiraukan. Milisi bersama penduduk bahu membahu untuk mempertahankan Bandung Utara.

Upaya Sekutu yang diboncengi Belanda yang ingin merebut kembali wilayah Indonesia, rupanya tidak berjalan mulus. Sejumlah Tentara Inggris yang berasal dari India membelot dan bergabung ke Indonesia. Hal tersebut membuat petinggi militer Inggris marah dan meminta agar Indonesia menyerahkan pasukannya yang desersi. Namun permintaan tersebut oleh Komandan Pasukan Indonesia di Bandung, Abdul Haris Nasution, ditolak.

Selanjutnya, ultimatum kedua kembali dikeluarkan oleh Kolonel McDonald pada 23 Maret 1946 yang menuntut agar milisi dan rakyat meninggalkan Bandung Selatan.  Namun tuntutan tersebut untuk kesekian kalinya ditolak oleh TRI.

SISA ledakan gudang mesiu Dayeuhkolot Bandung Selatan

Nasution sempat membicarakan opsi untuk mempertahankan atau menyerahkan Bandung pada Sutan Syahrir yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Syahrir yang merasa pesimis terhadap kekuatan TRI termasuk pada keterbatasan persenjataan serta ketidaksukaannya melihat pertumpahan darah, meminta kepada Nasution untuk mematuhi ultimatum Sekutu dengan mengosongkan Bandung.

Mendengar perintah Syarir, Nasution dan perwira-perwira lain merasa serba salah. Disatu sisi dia harus taat kepada perdana menteri sedang disisi lain dia tidak rela menyerahkan Bandung kepada Sekutu. Setelah melakukan rapat dengan para pimpinan militer Indonesia, akhirnya Nasution memutuskan untuk mematuhi apa yang diputuskan pemerintah sekaligus menunjukkan perlawanan dalam bentuk membumihanguskan Bandung agar tidak dijadikan markas militer oleh pasukan Sekutu.

Tepat pada 24 Maret 1946 dini hari, aksi membumihanguskan Bandung dimulai dengan terlebih dahulu mengungsikan penduduk. Bangunan pertama yang dibakar adalah Gedung Bank Rakyat, disusul bangunan-bangunan lainnya yang ada di  Banceuy, Cicadas, Braga serta Tegallega.

Suasana Bandung pada saat itu benar-benar mencekam. Pemadaman listrik membuat suasana gelap gulita dan hanya diterangi oleh cahaya api yang membakar rumah-rumah dan gedung-gedung. Disaat itu pula Tentara Inggris menyerang sehingga terjadilah pertempuran sengit di setiap sudut kota.

Pertempuran paling besar berlangsung di sebelah Selatan Bandung, tepatnya di Desa Dayeuhkolot yang menjadi tempat berdirinya gudang amunisi milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran tersebut gudang amunisi berhasil diledakkan dengan menggunakan dinamit oleh anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia), Muhammad Toha dan Ramdan. Namun kedua patriot tersebut harus menebus dengan nyawa mereka.

Kisah kepahlawanan Muhammad Toha, Ramdan dan milisi BRI dikemudian hari difilmkan dengan judul “Toha, Pahlawan Bandung Selatan” yang disutradarai Usmar Ismail, sementara cerita heroik pembumihangusan Kota Bandung dan pertempuran melawan Sekutu diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan berjudul “Halo-halo Bandung” yang hingga kini masih belum diketahui dengan jelas siapa penciptanya. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.