Press "Enter" to skip to content

Ngamuk di Yogyakarta, Jokowi Alami Depresi Tingkat Tinggi?

  • 28
  •  
  •  
  •  
  •  
    28
    Shares
Jokowi saat berpidato di Stadion Kridosono Yogyakarta

Melalui pidato yang disampaikan selama lebih dari setengah jam, capres nomor urut 01, Joko Widodo mengatakan di hadapan ribuan pendukungnya bahwa dirinya tidak ingin berdiam diri lagi. Waktu 4,5 tahun menurutnya sudah lebih dari cukup untuk bertahan dengan berdiam diri dalam menghadapi berbagai macam fitnah, dan kini saatnya untuk melawan!

Nuansa marah yang dipertegas dengan kata ‘saya akan lawan’ membuat sejumlah pihak banyak yang merasa heran, karena tidak biasanya Jokowi melontarkan pernyataan keras sebagaimana yang dia sampaikan di Stadion Kridosono, Yogyakarta, 23/03/2019.

“Selama ini Pak Jokowi itu orangnya kan dikenal ramah dan baik, lho waktu  di Yogyakarta itu saya lihat beliau kok marah dengan mengatakan ‘saya akan lawan’. Lantas yang mau dilawan siapa?” kata analisis sosial dari UBK (Universitas Bung Karno), Muda Saleh menyampaikan analisanya tentang sikap yang ditunjukkan Joko Widodo.

Kemarahan yang ditunjukkan lewat pilihan kata dan nada pidato tersebut, menurut Muda menampakkan bahwa kondisi mental Jokowi saat ini sedang jatuh.

“Jokowi juga menjadi tontonan yang buruk sebagai Kepala Negara, karena pada saat itu dia mengajak masyarakat untuk secara emosional ikut merasakan seperti apa yang dia rasakan. Padahal orang Solo itu halus-halus,” papar Muda.

Dengan sikap yang ditunjukkan saat berpidato, Muda menilai bahwa Jokowi saat ini sedang mengalami depresi tingkat tinggi disebabkan karena orang-orang di sekelilingnya banyak yang terjerat kasus hukum dan menjadi target penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

“Romy ditangkap KPK karena kasus korupsi, sebelumnya Setyo Novanto dan Idrus marham, dan kini Menpora Imam Nahrawi yang dibidik, selanjutnya Cak Imin yang digadang-gadang terkait kasus kardus durian, lalu Hary Tanoe soal Mobile 8, belum lagi Ganjar Pranowo lewat Apel Kebangsaan yang dinilai menghabiskan dana berlebihan hingga mencapai Rp.18 milyar. Hal ini bisa jadi penyebab ketakutan yang sangat berlebihan bagi seseorang yang ingin mempertahankan kekuasaannya,” ungkap Muda panjang lebar.

Menurut Muda, pernyataan keras semestinya tidak perlu disampaikan Jokowi dalam pidatonya, karena yang ditunggu masyarakat saat ini bukan kemarahan Jokowi melainkan empati dari seorang Kepala Negara terhadap nasib para petani di berbagai penjuru tanah air yang terpuruk akibat digempur produk impor.

“Tidak perlu berbicara sakit hati, kecewa, dihujat. Tapi lihat petani beras, petani garam, petani tebu yang menangis karena pada saat panen barang mereka tidak laku akibat impor berlebihan yang dilakukan menteri Jokowi. Kalau ngomong soal sakit hati, kecewa, direndahkan, siapa yang paling direndahkan, mereka para petani yang justru direndahkan oleh pemerintah,” tegas Muda.

Berdasarkan penilaian itulah analis sosial ini berkesimpulan bahwa Jokowi masih belum pantas untuk memimpin Indonesia. Muda mengibaratkan Jokowi mirip jago kandang yang alergi terhadap kritik dan hujatan. Padahal kritik, hujatan dan hinaan justru akan menguatkan diri dan memperbaiki kinerja serta menguatkan bangsa Indonesia. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.