Press "Enter" to skip to content

Hidayat Nur Wahid: Hari Tenang, KPU dan Bawaslu Tidak Boleh Ikut Tenang

  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
Hidayat Nur Wahid

Munculnya sejumlah persoalan di sejumlah TPS (Tempat Pemungutan Suara) di luar negeri, membuat Wakil Ketua Dewan Pengarah BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo – Sandi, Hidayat Nur Wahid, angkat bicara. Dengan tanpa menafikan pelaksanaan pemungutan suara yang sukses di sejumlah negara, politisi dari PKS ini menyampaikan kritiknya terkait kekacauan yang terjadi di TPSLN.

“Saya mengapresiasi pelaksanaan pemungutan suara yang sukses digelar di beberapa negara, seperti Singapura, Arab Saudi dan Pakistan. Namun, ada yang kacau di beberapa negara lain seperti Australia, Malaysia, Hongkong dan Belanda. Jadi, walaupun saat ini hari tenang, perlu untuk diingatkan agar persoalan tersebut diusut tuntas,” papar Hidayat di kompleks Gedung DPR, Senayan, Jakarta pada 15/04/2019.

Mantan Ketua MPR periode 2004 – 2009 ini juga menuturkan kembali kasus Surat Suara yang tercoblos di Selangor, Malaysia dan menyampaikan rasa herannya terhadap pernyataan dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang terkesan menganggap remeh persoalan tersebut dengan hanya menganggap Surat Suara yang tercoblos tersebut sebagai sampah dan tidak dihitung, tanpa mengembangkannya ke mranah hukum. Padahal, Surat Suara yang tercoblos tersebut jumlahnya sangat banyak.

“Seharusnya kan diusut, dicari siapa aktornya, termasuk kecurigaan adanya sistem undi pos yang katanya lagi-lagi menghadirkan masalah besar,” ungkap Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini.

Hidayat juga menekankan agar pada masa tenang Pemilu, KPU dan Bawaslu tidak ikut tenang dan duduk manis, namun berbuat sesuatu guna memberikan jaminan kepada WNI yang mempunyai hak pilih.

“Pada hari tenang ini, KPU dan Bawaslu seharusnya tidak ikut tenang, karena beragam kecurangan yang menjadikan WNI yang punya hak pilih tidak dapat memilih, sebagaimana yang terjadi di beberapa negara harus dipertanggungjawabkan,” tegas Hidayat.

Politisi PKS ini juga menambahkan bahwa masa tenang bukan berarti tenang terhadap potensi yang membuat hilangnya hak masyarakat, seperti serangan fajar alias money politics. “Untuk itu, wargapun juga perlu mewaspadai jika pada hari-hari tenang akan muncul genderuwo yang menakut-nakuti mereka dengan intimidasi untuk mengambil kedaulatan mereka,” tutur Hidayat Nur Wahid. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.