Press "Enter" to skip to content

Siti Manggopoh, Perintis Kemerdekaan dari Ranah Minang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Patung Siti Manggopoh di Simpang Gudang

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini. Itu sebabnya nama R.A. Kartini lebih akrab di telinga kita setiap kali menyebut nama pahlawan wanita Indonesia. Padahal masih banyak pahlawan wanita perintis kemerdekaan yang lain yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, salah satu diantaranya adalah Siti Manggopoh, ‘Singa Betina’ dari Ranah Minang.

Dilahirkan di Manggopoh pada 15 Juni 1881 dari pasangan Sutan Tariak dan Mak Kipap, Siti merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga petani tersebut. Karena tempat tinggalnya di desa terpencil yang menjadi bagian dari Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, masa kecilnya tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah kecuali belajar mengaji di mushollah dan belajar silat.

Saat memasuki usia remaja, tepatnya pada tahun 1890, dia menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki pandangan yang sama dengannya yaitu Rasyid Bagindo Magek. Karena itulah keduanya senantiasa bahu membahu dalam menentang penjajah Belanda.

Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, usai memberlakukan peraturan Tanam Paksa, Pemerintah Hindia Belanda yang harus menghadapi persoalan ekonomi akibat penurunan daya beli pasar Eropa, menerapkan kebijakan baru di wilayah Nusantara guna mengatasi persoalan tersebut. Tidak hanya satu peraturan, melainkan tiga paket kebijakan ekonomi sekaligus, yaitu: memperluas lahan tanaman kopi, menaikkan harga kopi di pasaran dan memberlakukan pajak tanah atau belasting of de bedrijfsen andere inkomsten yang selanjutnya dikenal dengan sebutan belasting.

Peraturan baru yang mulai berlaku sejak 1 Maret 1908 tersebut sudah barang tentu ditolak dengan tegas oleh masyarakat Minangkabau. Penolakan itu disertai dengan pemberontakan di berbagai daerah termasuk di Manggopoh. Bersama 12 orang lainnya, Siti dan Suaminya membentuk badan perjuangan yang bertekad untuk melawan penjajah Belanda sampai titik darah penghabisan.

Aksi heroik ditunjukkan oleh Siti bersama suami dan teman-teman seperjuangannya pada Kamis malam, 15 Juni 1908. Meski saat itu Siti dalam kondisi sedang menyusui anaknya yang bernama Dalima, namun dia rela berkorban dengan menyusup ke markas Belanda yang saat itu sedang menggelar pesta meriah.

Dengan kecerdikannya, Siti berhasil memadamkan semua lampu dan penerangan yang ada di dalam markas sebelum akhirnya memberi isyarat kepada pejuang lainnya yang bersiaga di luar untuk menyerbu markas.

Makam Siti Manggopoh

Pertempuranpun terjadi dalam suasana yang gelap. Puluhan tentara Belanda yang tidak menyangka akan diserang di markasnya sendiri dan dalam kondisi yang gelap gulita tidak mampu memberikan perlawanan meskipun jumlahnya lebih banyak dan dengan persenjataan yang lebih lengkap. Sehingga dari 55 orang serdadu Belanda, 53 diantaranya tewas terbunuh, dan 2 lainnya berhasil menyelamatkan diri ke Lubuk Basung dengan kondisi terluka parah. Sementara dari pihak pejuang, tidak ada satupun yang menjadi korban.

Kedua orang serdadu Belanda yang berhasil menyelamatkan diri, selanjutnya meminta bantuan pasukan Belanda yang berada di Padang Pariaman dan Bukittinggi. Merekapun membalas dendam dengan memporakporandakan Manggopoh.

Akibat dari aksi penyerangan yang dilakukan tentara Belanda pada Jumat sore, 16 Juni 1908 tersebut, seluruh pejuang yang sehari sebelumnya mengobrak-abrik markas Belanda gugur dan tidak sedikit warga yang ikut menjadi korban. Sementara Siti dan suaminya berhasil ditangkap dan dipenjara di lokasi yang berbeda, Rasyid dibuang di Manado sedang Siti dipenjara di Lubukbasung selama 14 bulan, sebelum akhirnya dipindah ke Pariaman selama 16 bulan dan terakhir dimasukkan ke penjara yang ada di Padang selama 12 bulan. Dengan alasan kemanusiaan karena anaknya yang masih menyusui, Siti akhirnya dibebaskan oleh Belanda.

Pasca kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1960, Siti yang saat itu sudah berusia senja, mendapat kunjungan dari Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal AH. Nasution. Kemudian pada tahun 1964, pemerintah melalui Kementrian Sosial mengeluarkan SK No. Pal.1379/64/P.K. tertanggal 17 November 1964 yang isinya memberikan penghargaan atas jasa kepahlawanan Siti dengan tunjangan sebesar Rp.850.

Siti Manggopoh yang telah memberi inspirasi bagi banyak wanita di Padang bahkan di Indonesia, akhirnya meninggal pada 22 Agustus 1965 dalam usia 80 tahun. Dia menghembuskan napas terakhir di rumah cucunya yang berada di Kampung Gasan dan dimakamkan dengan rangkaian upacara militer di makam yang berada di halaman masjid di Manggopoh. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.