Press "Enter" to skip to content

Reformasi 1998, Tumbangnya Orde Baru oleh Gerakan Mahasiswa

  •  
  •  
  •  
  •  
Pidato Pengunduran Diri Soeharto sebagai Presiden RI

Tepat pada hari ini 21 tahun yang lalu atau tanggal 21 Mei 1998, sebuah peristiwa penting tertoreh dalam sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia. Hari itu, Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun.

Pidato pengunduran diri presiden ke-2 RI dibacakan sekitar pukul 09.00 di Istana Merdeka, Jakarta. “Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak sayta bacakan pernyataan ini, pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998,” demikian petikan dari kalimat pengunduran diri Soeharto.

Mundurnya pencetus Orde Baru tersebut penyebab utamanya adalah gerakan reformasi yang dilakukan oleh mahasiswa yang dimulai sejak Soeharto menyatakan kesediaannya untuk dipilih lagi sebagai presiden, menyusul kemenangan Golkar pada Pemilu 1997.

Pada saat situasi politik memang memanas, terlebih setelah terjadinya peristiwa Sabtu Kelabu, yaitu dicopotnya Megawati Soekarnoputri dari jabatannya sebagai Ketua Umum PDI pada 27 Juli 1996, sehingga terjadi dualisme partai.

Menyusul setelah peristiwa Sabtu Kelabu, muncul serangkaian peristiwa yang semakin memanaskan situasi yaitu hilangnya para aktivis demokrasi serta mahasiswa-mahasiswa yang dicurigai melawan pemerintah.

Demonstrasi Mahasiwa yang Berujung Bentrok dengan Aparat Keamanan

Sejak itu perlawanan yang dilakukan para mahasiswa semakin frontal dengan melakukan aksi tidak hanya di dalam kampus tapi juga di luar. Tuntutan mahasiswapun tidak lagi sebatas perbaikan ekonomi melainkan pergantian kepemimpinan nasional.

Aksi demi aksi yang dilakukan mahasiswa di seluruh penjuru tanah air, oleh aparat keamanan tidak ditangani secara persuasif melainkan dengan cara kekerasan, sehingga aksi damaipun berubah menjadi tragedi.

Salah satu diantaranya adalah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di Yogyakarta pada 8 Mei 1998. Karena aparat keamanan menanganinya secara represif, salah seorang mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Moses Gatutkaca, tewas akibat terkena pukulan benda tumpul.

Puncak dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan terjadi pada 12 Mei 1998, yaitu tewasnya 4 mahasiswa Universitas Trisakti akibat ditembak dengan menggunakan peluru tajam oleh aparat keamanan.

Tidak hanya itu, mahasiswa yang melakukan demonstrasi besar-besaran di Jakarta juga ditembaki dengan peluru karet dan peluru tajam serta dihajar menggunakan pentungan sehingga menyebabkan 200 orang lebih terluka.

Keesukan harinya, pada 13 – 15 Mei 1998, sebuah kerusuhan dengan nuansa rasial terjadi di ibukota dan beberapa kota besar lainnya. Kerusuhan tersebut menyebabkan terbunuhnya sejumlah orang dan puluhan perempuan dari eetnis tertentu mengalami pemerkosaan.

Meski aparat keamanan melakukan tindak kekerasan dalam menangani setiap aksi, hal tersebut tidak membuat mahasiswa surut dan terus melakukan perlawanan hingga pada 18 Mei 1998 mereka berhasil menduduki gedung DPR/MPR.

Mahasiswa Menduduki Gedung DPR-MPR

Situasi tersebut sudah barang tentu membuat posisi Soeharto terpojok. Terlebih Harmoko yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPR/MPR meminta agar Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden.

Meski dalam posisi yang sudah terpojok, Soeharto masih berusaha memberikan perlawanan. Dia mencoba melakukan negosiasi dengan menawarkan dibentuknya Komite Reformasi yang fungsinya semacam pemerintahan transisi sampai dengan dilakukannya pemilu berikutnya.

Selain itu, Soeharto juga mengajak sejumlah tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais dan Nurcholish Madjid untuk bergabung ke dalam Komite Reformasi. Namun tawaran tersebut ditolak.

Tidak hanya para tokoh, sebanyak 14 menteri dibawah koordinasi Ginandjar Kartasasmita yang saat itu menjabat sebagai Menko Ekuin juga menolak untuk bergabung ke dalam Komite Reformasi serta menolak dimasukkan ke dalam kabinet baru hasil reshuffle.

Dengan posisi yang semakin lemah dan melalui sejumlah pertimbangan yang dilakukan sehari sebelumnya, akhirnya pada 21 Mei 1998, Soeharto membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai presiden Republik Indonesia. Hari disaat Soeharto membacakan pidato pengunduran diri itulah yang kini diperingati sebagai Hari Reformasi Indonesia. (AGK)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.