Press "Enter" to skip to content

Mempertanyakan Asal-usul Timah Panas yang Merenggut Nyawa Korban Kerusuhan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Amien Rais

Aksi unjuk rasa di depan Kantor Bawaslu yang berujung ricuh telah menelan enam korban jiwa, baik terkena benda tumpul maupun terkena tembakan. Salah satunya adalah Farhan Syafero (31 tahun), warga JL. Pramuka, Gang Perintis, RT/RW: 03/07, Kampung Rawa Kalong, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat.

Korban meninggal akibat luka tembak yang menembus lehernya.

Menyikapi jatuhnya korban jiwa dalam aksi unjuk rasa tersebut, Prabowo Subianto melalui konferensi pers yang digelar di kediamannya di JL. Kertanegara, Jakarta Selatan, 22/05/2019, meminta agar aparat tidak gegabah menggunakan senjata dalam menghadapi rakyat yang berunjuk rasa.

“Kami memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, agar kemanunggalan TNI – Polri tidak digunakan sebagai alat kekuasaan. Adik-adikku para pejabat dan peetugas di TNI – Polri yang masih aktif, saya mohon, kita ingatkan bersama, makan dan senjata yang Anda gunakan dibiayai oleh rakyat,” tutur Prabowo.

TNI dan Polri, tambah Prabowo adalah milik rakyat dan rakyat berharap agar TNI – Polri dapat melindungi dan mengayomi mereka. “Kami mohon jangan sekali-kali sakiti hati rakyat, apalagi memukul dan menembak rakyat kita sendiri. Mari sama-sama kita jaga rakyat.”

Selain menyampaikan pesan kepada aparat keamanan, Prabowo juga meminta kepada para pendukungnya untuk tetap menjaga kondisivitas, menghindari kekerasan dan tidak bertindak anarki.

“Berlakulah sopan dan santun. Hormati pejabat penegak hukum, jangan seskali-kali gunakan kekerasan. Seandainya ada salah paham dan kau dipukul, jangan melawan. Ini berat, tapi harus kita lakukan demi negara dan bangsa, demi seluruh umat. Hindari kekerasan,” pesan Prabowo kepada para pendukungnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Amien Rais, saat berorasi di depan massa yang berkumpul di depan Kantor Bawaslu pada 22/05/2019, ikut menyoroti jatuhnya korban jiwa pada peristiwa kerusuhan dini hari sebelumnya.

Amien berharap, timah panas yang menjemput nyawa korban, bukan berasal dari laras senjata milik aparat keamanan. “Mudah-mudahan yang menembaki itu adalah orang-orang yang bukan resmi Polri.”

Dalam sambutannya Amien juga menyampaikan bahwa aksi demonstrasi yang berujung rusuh telah merusak tatanan demokrasi. “Jadi teman-teman aparat saya imbau, Anda harus menjaga kemanunggalan,” harap Amien.

Menanggapi kecurigaan sejumlah pihak yang menyudutkan pihak keamanan dengan tuduhan telah menggunakan peluru tajam untuk meredam kerusuhan, Kapolri, Jendelar Pol Tito Karnavian menyampaikan bahwa Kepolisian telah menangkap 6 orang terkait dengan kepemilikan senjata api. Senjata api tersebut, kata Tito, hendak digunakan untuk menyerang pengunjuk rasa dengan tujuan agar massa marah karena menganggap yang menyerang pengunjuk rasa adalah aparat keamanan.

Jend. Pol. Tito Karnavian Menunjukkan Barang Bukti Berupa i senjata api M-4

“Berdasarkan informasi intelijen yang kami terima, senjata-senjata ini mereka pakai diantaranya, selain kepada pejabat dan aparat, juga kepada massa, agar nantinya timbul martir, alasan untuk membuat publik marah dan yang akan disalahkan adalah aparat dan pemerintah,” terang Tito di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, 22/05/2019.

Ditambahkan pula bahwa aparat keamanan telah menyita satu senjata jenis M4 lengkap dengan peredam dan teropong untuk menembak. Selanjutnya, 3 dari 6 orang yang ditangkap, memiliki senjata revolver janis taurus dan glok mayer 22 beserta 2 dus peluru yang berjumlah 60 butir.

“Pengakuan dari mereka yang ditangkap sama, yaitu dipakai saat tanggal 22,” ujar Tito.

Tidak hanya itu, Kapolri juga mengungkapkan bahwa saat terjadi teror tanggal 22 Mei, Polisi telah menangkap sejumlah pelaku yang kedapatan membawa bom, 4 senjata api dalam bentuk 1 senapan panjang dan 3 senapan laras pendek.

Rangkaian senjata api illegal yang saat ini sudah berada di tangan Polisi tersebut, kata Tito, masih akan ditelusuri motif dan kaitannya dengan sejumlah korban yang ditembak di sejumlah titik pada saat terjadinya kerusuhan.

“Kami masih akan terus mendalami, apakah dilakukan oleh aparat atau ada pihak ketiga, pihak keetiga yang sengaja mendesain agar supaya terjadi kemarahan publik,” terang Tito.

Pada kesempatan itu Tito juga menegaskan bahwa tidak ada perintah penembakan kepada para demonstran, karena aparat memiliki SOP dalam mengamankan demonstrasi.

“Karena itu, saya meminta agar masyarakat tetap tenang, tidak langsung apriori, jangan langsung menuduh aparat pemerintah, aparat keamanan yang melakukan tindakan-tindakan tersebut,” harap Kapolri. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.