Press "Enter" to skip to content

Polri Ungkap Tiga Kelompok Penumpang Gelap Pada Aksi 22 Mei

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menunjukan barang bukti senjata saat jumpa pers terkait kerusuhan 22 Mei, di Kantor Kemenko Polhukam

Desakan banyak pihak yang meminta Polri segera mengusut tuntas kerusuhan yang terjadi pada unjuk rasa menolak hasil penghitungan suara Pemilu 2019 oleh KPU pada 21, 22 dan 23 Mei, akhirnya memperoleh jawaban. Meski ‘otak’ dari kerusuhan tersebut masih belum

diumumkan ke publik, namun penumpang gelap yang menunggangi aksi unjuk rasa telah berhasil diungkap dan diumumkan oleh Polri di hadapan awak media pada 27/05/2019 di kantor Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta.

Pada kesempatan itu, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Muhammad Iqbal menyampaikan, ada tiga kelompok penumpang gelap yang menunggangi aksi unjuk rasa, sehingga demonstrasi yang awalnya berjalan damai, berubah menjadi rusuh menjelang tengah malam. Berikut tiga kelompok penumpang gelap yang dimaksud.

Penyelundup Senjata Api Ilegal dari Aceh

Penyelundupan senpi ilegal ini melibatkan Danjen Kopassus, Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko. Adapun jenis senjata ilegal yang diselundupkan terdiri atas revolver dan Glock beserta 50 butir peluru, serta senjata yang dipakai para sniper.

Senjata sniper tersebut berjenis M4 Carbine beserta dua buah magasin, tali sandang, peredam suara dan tas senjata.

Kelompok Pro ISIS

Kelompok kedua yang ikut menunggangi aksi unjuk rasa adalah organisasi Garis (Gerakan Reformasi Islam) yang diduga memiliki afiliasi dengan kelompok pro ISIS (Islamic State in Iraq and Syria).

Bukti dari keterlibatan organisasi Garis ini adalah tertangkapnya dua orang perusuh yang merupakan anggota organisasi Garis dan keduanya juga mengakui ingin menjadikan moment tanggal 21 – 22 Mei sebagai medan untuk berjihad.

“Para pelaku tersebut menyampaikan, ingin memanfaatkan momentum demokrasi sebagai aksi, karena demokrasi dalam pandangan mereka merupakan paham kafir,” kata Irjen Muhammad Iqbal.

Eksekutor Pejabat

Kelompok ketiga yang memanfaatkan aksi 21 – 22 Mei 2019 untuk membuat kekacauan adalah kelompok yang bermaksud mengeksekusi empat orang tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survey.

Nama dari keempat tokoh dan seorang pimpinan lembaga survey yang akan dibunuh tersebut oleh Iqbal memang tidak disebutkan, tapi yang pasti enam orang yang menjadi bagian dari kelompok ini berhasil diamankan, yaitu HK, AZ, TJ, IR, Ad dan HF.

Selain ketiga kelompok tersebut, tidak tertutup kemungkinan masih ada kelompok-kelompok lain yang menjadi penumpang gelap dalam aksi unjuk rasa 21 – 22 Mei 2019. “Tunggu saja nanti, tim sedang bekerja,” kata Kepala Divisi Humas Polri ini sambil menyampaikan kalau Polri masih terus melakukan investigasi guna menguak keberadaan kelompok lain, mencari keterkaitan antara ketiga kelompok penumpang gelap, sampai dengan mencari ‘otak’ yang mendalangi kerusuhan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.