Press "Enter" to skip to content

Memprediksi Bentuk Kabinet Jokowi – Maruf

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Memprediksi Bentuk Kabinet Jokowi – Maruf

Usai ditetapkan sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih pada Pilpres 2019 oleh KPU, pasangan Jokowi – Ma’ruf langsung mendapat sorotan seputar nama-nama yang bakal mengisi jabatan menteri pada kabinet pemerintahan yang akan datang.

Berbeda dengan saat terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014, ketika itu Jokowi secara tegas membagi dua kategori menteri yang duduk di pemerintahan, yaitu 18 menteri dari kalangan profesional dan 16 menteri dari partai politik.

Saat ini pembedaan antara profesional dan parpol tersebut menurut Jokowi sudah tidak lagi penting. “Yang terpenting, setiap kementrian akan diisi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, memahami masalah-masalah yang ada di dalam sehingga lebih mudah dalam mengeksekusi program dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada,” demikian yang disampaikan Jokowi saat ditanya tentang gambaran para menteri yang bakal mengisi kabinetnya.

Tidak adanya lagi pembedaan latar belakang antara yang profesional dan yang berlatarbelakang politik pada penyusunan kabinet pemerintah 2019 – 2024, menurut Jokowi, disebabkan karena banyak kader partai yang juga profesional di bidangnya.

“Jangan dibeda-bedakan, ini dari profesional dan ini dari politik, karena banyak politisi yang juga profesional,” kata Jokowi sambil menambahkan bahwa pembahasan kabinet masih akan dibahas lebih lanjut bersama parpol Koalisi Indonesia Kerja dan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pembicaraan dengan parpol oposisi yang ingin bergabung ke dalam partai koalisi pendukung pemerintah.

“Berulangkali saya menyampaikan, kami selalu terbuka bagi siapapun yang ingin bekerja sama membangun dan memajukan negara ini, secara terbuka,” tegas jokowi.

Selain menghapus sekat antara menteri dari kalangan profesional dan kalangan parpol, Jokowi juga menyinggung rencananya untuk menempatkan kaum muda di jajaran kabinetnya. “Ya, bisa saja nantinya ada menteri umur 20 – 30 tahun. Kenapa tidak? Tapi dia harus mengerti managerial serta mampu mengeksekusi program-program yang ada. Umur 30-an juga banyak” papar Jokowi.

Dikatakan oleh Presiden RI ke-7 ini bahwa pada era globalisasi ini dibutuhkan orang-orang yang dinamis, fleksibel serta dapat mengikuti perubahan zaman. Terkait adanya kekhawatiran dari sejumlah kalangan terkait minimnya pengalaman kalangan muda dalam memanage pemerintahan, menurut Jokowi hal tersebut dapat diatasi dengan keberadaan empat menteri koordinator yang akan diisi oleh mereka yang sudah senior dan memiliki pengalaman panjang di bidangnya.

Terkait dengan rencana pembentukan kabinet pemerintah tahun 2019 – 2024, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan bahwa komposisi kabinet baru hendaknya dapat memenuhi kebutuhan ahli di tubuh pemerintah sekaligus dapat mengakomodasi keinginan politis, sehingga komposisinya harus seimbang antara kalangan profesional dan dari partai pendukung.

“Setidak-tidaknya ‘fifty-fifty’ antara menteri dari partai dan non-partai. Menteri dari partai pun tidak berarti tidak profesional,” kata JK pada 02/07/2019 di Kantor Wapres, Jakarta.

Lebih lanjut JK membandingkannya dengan Kabinet Kerja yang ada saat ini, dimana jumlah menteri dari kalangan ahli sebanyak 19 orang dan dari parpol sebanyak 15 orang. Harapannya, komposisi kabinet Jokowi – Ma’ruf tidak berbeda jauh dengan komposisi kabinet yang ada sekarang.

Menurut Wapres merupakan hal yang wajar apabila Jokowi memberi jatah menteri kepada parpol pendukungnya, selain karena parpol tersebut nantinya akan  memberikan dukungan di parlemen juga karena partai koalisi memiliki hak untuk bekerjasama di kabinet melalui para menteri yang diusung.

“Wajar saja,di manapun itu terjadi. Kalau parpol, disamping mendukung di DPR juga bekerjasama di kabinet,” terang JK di hadapan awak media.

Sementara itu, menurut penilaian Firman Noor, pengamat politik dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dalam pembentukan  kabinet barunya, Jokowi diprediksi tidak lagi memperdulikan bagi-bagi kursi kepada parpol pendukung karena lebih terfokus mempercepat kerja pemerintahannya.

“Pertimbangan pilihan-pilihan Jokowi akan lebih bebas dan lebih mengarah pada kepentingan bangsa dibanding sekedar bagi-bagi kursi kepada parpol pendukungnya,” ungkap Firman di hadapan wartawan pada 02/07/2019.

Kapuslit Politik LIPI ini menjelaskan, peluang Jokowi untuk memasukkan kalangan profesional di tubuh kabinet kemungkinannya sangat besar, karena kedepan Jokowi sudah tidak terlalu mementingkan dukungan politik. Hal tersebut sama seperti yang pernah dilakukan SBY saat terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya pada tahun 2009.

“Harapan saya seperti itu, kabinet yang dibentuk oleh Jokowi nantinya dapat terlepas dari kepentingan partai, jadi tidak menjadi simbolis barter politik yang membuat performa kabinet menjadi kurang baik, melainkan benar-benar kabinet profesional yang dapat menggenjot kinerja pemerintahan,” tegas Firman. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.