Press "Enter" to skip to content

Babak Baru Pengungkapan Kasus Novel Baswedan

  •  
  •  
  •  
  •  
Ketua KPK. Agus Rahardjo

Setelah masa tugas TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan berakhir pada 8 Juli 2019 tanpa menemukan titik terang, sejumlah pihak pun mengambil langkah agar kasus tersebut tidak terus menerus terkatung-katung.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menjadi institusi tempat Novel bekerja sebagai penyidik, berencana akan menyampaikannya ke Presiden. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPK, Agus Raharjo, setelah sebelumnya menyampaikan kekecewaannya atas hasil kerja TGPF bentukan Polri.

“Ternyata kan masih cukup gelap. Kita sebenarnya berharap ada tersangkanya. Ternyata TGPF bisa dikatakan tidak berhasil,” kata Agus  di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, 18/07/2019.

Itu sebabnya komisioner KPK menurut Agus nantinya akan mendiskusikan persoalan tersebut pada rapat pimpinan. Dalam rapat itulah akan diputuskan, langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh KPK agar dapat menuntaskan kasus Novel.

“Kita akan berdiskusi dulu dalam rapat pimpinan, karena kan keputusannya harus kolektif kolegial. Jadi harus mendapat persetujuan dari para pimpinan.Apakah meminta Presiden agar membentuk TGPF baru atau yang lain,” tutur Agus.

Desakan untuk membentuk TGPF baru disampaikan oleh mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas. Sejak awal dia sudah menduga bahwa hasil kerja dari TGPF bentukan Polri tidak akan memuskan. Dugaan tersebut ternyata benar dengan masih belum terungkapnya kasus yang sudah terkatung-katung selama 2 tahun  lebih.

“Kami tidak terkejut dengan hasil kerja dari TGPF bentukan Polri ini, karena sejak awal kami sudah memprediksi hasilnya,” ujar Busyro di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, 18/07/2019.

Untuk itu, satu-satunya jalan agar dapat mengungkap kasus Novel, menurut Busyro adalah membentuk TGPF baru yang dilakukan langsung oleh Presiden. Itupun harus disertai dengan beberapa catatan.

“Kalau untuk legalitas, tetap Presiden yang kami minta untuk membentuk TGPF. Tapi, unsur masyarakat sipilnya jangan istana yang menentukan. Kami sulit percaya. Serahkan pada kami unsur masyarakat madani, koalisi antikorupsi, serahkan. Beri waktu satu minggu untuk mencari sendiri. Nah, itu bentuk penghormatan terhadap masyarakat sipil,” papar Busyro.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal bersama Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Kasus Novel Baswedan, Nur Kholis

Sementara itu, pihak Polri tidak menganggap gagal investigasi yang telah dilakukan TGPF, karena TGPF telah merekomendasikan Polri untuk membentuk Tim Teknis Lapangan guna menindaklanjuti temuan TGPF dalam mengungkap kasus Novel Baswedan.

Berdasarkan rekondasi TGPF itulah, Polri kemudian membentuk Tim Teknis Lapangan yang akan dipimpin Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal idham Azis, yang akan bekerja paling lambat enam bulan dan masa kerjanya bisa diperpanjang. Tim Teknis Lapangan ini nantinya akan diisi oleh anggota-anggota Polri dengan berbagai kemampuan.

“Mereka yang terlibat dalam tim ini terdiri dari satgas-satgas yang sangat profesional, seperti tim interogator, tim penggalangan, tim surveillance, tim Inafis, bahkan Densus 88 akan diturunkan,” terang Kepala Divisi Humas Polri, Irjen M. Iqbal di Mabes Polri, 17/07/2019. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.