Press "Enter" to skip to content

15 Tahun Kematian Munir, Sebuah Dongeng tentang Penegakan Keadilan di Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Munir

Hari ini, 7 September 2019 tepat 15 tahun kematian pejuang HAM (Hak Asasi Manusia) Munir Said Thalib, yang meninggal di dalam kabin pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974.

Munir yang hendak berangkat ke Ultrecht untuk mendalami ilmu tentang perlindungan internasional terkait HAM, meninggal dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam setelah sebelumnya transit di bandara Changi, Singapura.

Sesampai di bandara Schiphol, Amsterdam, jasad Munirpun diurus oleh pihak bandara dan dilakukan proses autopsi, sebelum akhirnya dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan di Kota Batu, Jawa Timur pada tanggal 12 September 2004.

Dua bulan kemudian, datang informasi mengejutkan dari pihak Kepolisian Belanda yang mengumumkan bahwa dari hasil autopsi, ditemukan bahwa kematian penerima penghargaan Right Livelihood Award 2000 ini disebabkan karena racun arsenik.

Informasi dari Kepolisian Belanda tersebut selanjutnya diumumkan oleh Kepolisian RI dan Jenderal Polisi Da’i Bachtiar yang kala itu menjabat sebagai Kapolri menyampaikan adanya dugaan pembunuhan terhadap Munir dengan cara diracun.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di Belanda, terdapat kandungan racun arsenik dalam darah, air seni dan jantung Munir dengan kandungan yang cukup untuk membunuh 32 ekor gajah!

Polripun melakukan pendalaman dengan menggali kembali makam Munir dan membentuk tim forensik. Desakan untuk mengungkap kematian Munir juga datang dari berbagai pihak, termasuk meminta kepada Komnas HAM untuk membentuk tim independen guna mengungkap kasus kematian Munir.

Pada akhirnya, kasus ini menyeret maskapai Garuda Indonesia dengan ditetapkannya salah satu pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai terdakwah pelaku pembunuhan Munir dan divonis hukuman selama 14 tahun penjara. Selain itu, Indra Setiawan yang menjabat sebagai Direktur Utama Garuda  juga divonis bersalah dan dijatuhi hukuman selama satu tahun penjara.

Keterlibatan pihak Garuda Indonesia dalam kasus kematian Munir tidak lepas dari temuan sejumlah kejanggalan. Salah satunya adalah keberadaan Pollycarpus di kabin pesawat dengan  mengantongi surat tugas bernomor GA/DZ-2270/04 tertanggal 11-08-2004, padahal saat itu statusnya sedang cuti. Surat tugas tersebut ditandatangani Dirut Garuda Indonesia, Indra Setiawan, sehingga Indrapun dituduh ikut terlibat dalam pembunuhan.

Meski pelaku pembunuhan yaitu Pollycarpus sudah divonis dan menerima hukuman, namun banyak pihak yang menduga bahwa dalang dari pembunuhan tersebut masih belum terungkap. Dugaan tersebut muncul karena dalam persidangan Indra membantah kalau dirinya terlibat dalam konspirasi pembunuhan Munir.

Melalui pledoinya Indra mengatakan bahwa dikeluarkannya surat  tugas untuk Pollycarpus yang dia tandatangani, karena memenuhi permintaan dari BIN. Dia tidak tahu maksud dari BIN yang meminta agar Pollycarpus ditempatkan di pesawat yang sama dengan yang ditumpangi Munir, karena baginya bukan sebuah kesalahan saat mengikuti petunjuk sebagaimana arahan dari surat resmi yang dikeluarkan lembaga negara yang memang bertugas untuk mencegah ancaman teror.

Kejanggalan lainnya diungkap oleh istri Munir, Suciwati yang mengatakan bahwa beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda, dia menerima telepon dari seseorang yang menyebut dirinya Pollycarpus. Melalui percakapan telepon, pria tersebut menanyakan kepastian waktu keberangkatan Munir. Tanpa menaruh curiga Suciwatipun mengatakan kalau Munir akan berangkat pada 6 September 2004 menggunakan penerbangan GA-974.

Saat itu Suciwati sempat bertanya alasan Pollycarpus menelepon. Menurut pria yang ada di telepon, dia mengaku teman Munir yang kerja di Garuda Indonesia dan akan berangkat bersama Munir ke Belanda.

Saat Munir pulang, percakapan lewat telepon itu dia ceritakan dan dengan santai Munir mengatakan kalau Pollycarpus “orang aneh dan sok akrab”.

Pasca kematian Munir, upaya untuk mengungkap kasus tersebut memang telah dilakukan oleh Polri. Namun hingga bergantinya Kapolri sampai tujuh kali, mulai dari Da’i Bachtiar sampai dengan Tito Karnavian, kasus kematian Munir masih belum kunjung terungkap.

Dugaan yang berkembang, dalang pembunuhan Munir masih belum tersentuh hukum, meski sejumlah fakta persidangan mengungkap adanya keterlibatan petinggi BIN (Badan Intelijen Negara) dalam kasus tersebut.

Terkait dengan dugaan adanya keterlibatan BIN dalam kasus tersebut, sebenarnya telah menyeret mantan Deputi V BIN, Mayjen Purnawirawan Muchdi Purwoprandjono sebagai terdakwa. Namun oleh hakim divonis bebas karena kurangnya bukti.

Selanjutnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kasus Munir. Namun hasil investigasi tim itupun tidak pernah diungkap di hadapan publik.

Upaya untuk membuka hasil investigasi dari tim pencari fakta bentukan pemerintahan SBY, pernah dilakukan oleh KIP (Komisi Informasi Pusat) dengan mengajukan putusan sengketa informasi. Sayangnya, upaya KIP digagalkan oleh Kementrian Sekretariat Negara pada era pemerintahan Joko Widodo yang memenangkan banding di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara).

Upaya berikutnya dilakukan Kontras dan Imparsial dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Kali inipun MA memenangkan pemerintah, sehingga hilang sudah harapan untuk dapat membuka hasil investigasi yang telah dilakukan Tim Pencari Fakta.

Adanya kesan pemerintah ingin merahasiakan temuan Tim Pencari Fakta, membuat pemerintahan Jokowi pun menuai kecaman dari berbagai pihak, dan Jokowi dicap telah mengingkari janji kampanyenya pada Pilpres 2014, karena salah satu dari janji kampanye tersebut adalah mengungkap otak pembunuhan Munir.

Mengungkap kematian Munir memang seperti mendengarkan sebuah dongeng tentang penegakan keadilan di Indonesia. Apa yang dibayangkan dan apa yang diharapkan hanya sebatas angan-angan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.