Press "Enter" to skip to content

Bukti Baru Praktik Predatory Pricing Semen China yang Mengancam Industri Semen Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
Andre Rosiade

Setelah melayangkan laporan resmi dugaan praktik predatory pricing perusahaan semen China ke KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) pada

08/08/2019, Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade, kembali mendatangi KPPU pada 09/09/2019 untuk menyerahkan bukti-bukti baru terkait dugaan tersebut.

Kedatangan Andre yang didampingi FSPISI (Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia) kali ini dengan membawa data berupa harga jual semen Conch dari China di pasar ritel yang dibawah struktur harga produksi, mulai dari bahan baku, proses produksi sampai menjadi semen.

Dengan membawa bukti baru tersebut diharapkan dapat memperkuat dugaan adanya pelanggaran pasal 20 UU No.5 Tahun 1999 yaitu tentang praktik jual rugi alias predatory pricing yang telah dilakukan produsen semen Conch.

“Industri semen itu industri kompetitif dengan harga bahan baku yang relatif sama antar pabrik. Karena itu menjadi aneh jika harga jual semen Conch lebih rendah dari harga pokok produksi. Itu sebabnya kami merasa yakin telah terjadi predatory pricing yang dilakukan semen China,” ujar Andre pada 9/9/2019 di Kantor KPPU.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari FSPISI, kata Andre harga jual semen Conch jauh lebih rendah dibanding modal yang dikeluarkan. “Untuk per-sak semen (50 kg), harga modalnya sekitar Rp.53.000. Namun semen China hanya dijual seharga Rp.45.000. Data ini adalah data riil di lapangan.”

Dalam jangka pendek, praktik predatory pricing ini memang seperti menguntungkan konsumen. Namun, dampak jangka panjangnya akan sangat berbahaya karena dapat membunuh industri semen Indonesia, demikian Andre menjelaskan.

Sekjen Partai Gerindra ini memberikan contoh tentang kasus hancurnya Semen Tarjun Indocement yang ada di Kalimantan Selatan. Dulu Semen Tarjun menjual produknya seharga Rp.53.000 sementara Semen China dijual seharga Rp.50.000. Karena kalah dari sisi pemasaran, pabrik Semen Tarjun pun akhirnya mati dan ditutup. Disaat itulah harga semen China dinaikkan dari Rp.50.000 menjadi Rp.65.000.

“Inilah yang kita takutkan. Jika dibiarkan, industri semen lokal kita akan mati. Jika industri semen kita mati, mereka akan menaikkan harga semen seenaknya. Kedaulatan kita terancam. Presiden harus memperhatikan hal ini,” papar Andre sambil meminta presiden untuk memanggil menteri terkait dan mengambil langkah-langkah solutif karena BUMN di sektor semen merupakan salah satu pondasi ekonomi bangsa.

“Apalagi produksi semen kita sudah over supply dan asosiasi semen di Indonesia juga sudah berkirim surat kepada Menteri Perindustrian,” kata politisi dari Partai Gerindra ini.

Terkait praktik predatory pricing, Direktur Penindakan dan Investigasi KPPU, Gopprera Panggabean sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya memerlukan bukti untuk proses klarifikasi. Jika bukti dirasa cukup barulah dilakukan proses penyidikan.

“Kami juga akan melakukan klarifikasi ke perusahaan-perusahaan lain terkait harga semen yang sebenarnya. Apakah harga yang diberlakukan semen yang dilaporkan tersebut memang praktik jual rugi atau tidak, sebab efisiensi yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan berbeda-beda,” terang Gopprera sambil menegaskan bahwa praktik predatory pricing merupakan kasus yang sulit untuk dibuktikan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.