Press "Enter" to skip to content

(Obituari) BJ Habibie, Bapak Teknologi yang Membawa Indonesia Terbang Tinggi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
BJ Habibie

Kompetensinya yang luar biasa dalam dunia dirgantara membuat sosok Bacharuddin Jusuf Habibie memperoleh predikat sebagai Bapak Teknologi Indonesia.

Kemampuannya dalam teknologi pesawat terbang diawali dari belajar tentang serba-serbi mesin pesawat di Fakultas Teknik ITB yang kala itu masih bernama Universitas Indonesia.

Hanya beberapa bulan mengenyam pendidikan di ITB, diapun terbang ke Jerman untuk menempuh studi teknik penerbangan dengan mengambil spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule.

Keberangkatannya ke Jerman tersebut bisa dibilang untuk menjalankan tugas negara karena Habibie merupakan salah satu dari generasi dirgantara angkatan pertama yang dikirim Soekarno untuk belajar membuat pesawat terbang ke berbagai negara.

Pada tahun 1960, Habibie meraih gelar Diplom Ingenieur dan tahun 1965 dia memperoleh predikat summa cumlaude dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Tidak hanya itu, dia juga berhasil menemukan rumus tentang cara menghitung keretakan atau krack propagation on random hingga ke atom-atom pesawat terbang. Berkat rumus yang kemudian dikenal dengan sebutan “Faktor Habibie”, dia mendapat julukan “Mr. Crack”.

Kecerdasannya yang luar biasa tersebut, membuat Habibie pernah dipercaya sebagai Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh di Jerman. Dia juga sempat menduduki jabatan sebagai penasihat senior, direktur teknologi dan wakil presiden pada perusahaan tersebut.

Selain itu, Habibie juga pernah bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm yang berpusat di Jerman, sebelum akhirnya diminta pulang oleh Presiden Soeharto pada tahun 1973 agar dapat membagikan dan membaktikan ilmunya di Indonesia.

“Kita harus sangat sadari bahwa industri strategis khususnya dirgantara, adalah produk sepanjang masa yang dibutuhkan Indonesia,” demikian petikan sebuah kalimat yang dilontarkan Habibie pada acara Presidential Lecture di Bank Indonesia pada 13/02/2017.

Kecintaannya pada dunia dirgantara dan semangatnya untuk membangun industri penerbangan di Indonesia memang tidak pernah hilang meskipun usianya sudah senja. Bukti dari kecintaan dan semangatnya tersebut dia tunjukkan dengan memperkenalkan prototip pesawat baru bernama R80 pada bulan April 2015.

Untuk mengerjakan pesawat yang dirancang oleh perusahaan yang didirikannya yaitu Regio Aviasi Industri, Habibie meminta bantuan Presiden Joko Widodo untuk ikut memberikan dukungan. Pesawat tersebut diklaim memiliki teknologi yang tidak kalah hebat dari Boeing 777, bahkan lebih unggul karena hemat bahan bakar, waktu berputar yang singkat serta perawatannya yang mudah.

Pesawat R80 yang memiliki kapasitas penumpang sebanyak 80- 90 orang, dipandang sangat cocok untuk digunakan karena sudah disesuaikan dengan mayoritas bandara di Indonesia yang memiliki tipe bandara sedang. Menurut rencana pesawat ini akan diproduksi massal pada tahun 2024.

Perjalanan karir Habibie setelah dipanggil Soeharto untuk kembali ke Indonesia diawali dengan jabatan sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT yang dia emban selama 20 tahun. Selanjutnya, dia dipilih oleh MPR untuk menggantikan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden.

Pada saat Soeharto mengundurkan diri, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang, Habibie yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden akhirnya dilantik sebagai Presiden pada bulan Mei 1998.

“Saya tidak pernah tertarik atau ingin menjadi presiden. Itu terjadi secara tidak sengaja. Saya harus mengambil alih karena Presiden Soeharto mengundurkan diri,” ungkap pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan tersebut.

Selama 517 hari menjadi orang pertama di Indonesia, Habibie mengaku mengemban beban yang cukup berat karena pada saat itu memang cukup banyak permasalahan yang terjadi di tubuh pemerintahan.

Pada masa awal kepemimpinannya, dia membuka keran kebebasan pers, membebaskan tahanan-tahanan politik serta memberikan otonomi ke daerah-daaerah. Sebanyak 113 undang-undang baru ditelurkan setiap harinya, salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan Pemilu tahun 1999.

Habibie meletakkan jabatannya sebagai presiden karena pertanggungjawabannya sebagai presiden ditolak sebelum dibacakan. Hal tersebut disebabkan karena keputusannya yang memberikan kesempatan kepada Timor Timur untuk melakukan referendum yang berbuntut pada lepasnya Timor Timur dari NKRI sebelum akhirnya menjadi negara Timor Leste pada 30 Agustus 1999.

Setelah lengser dari kursi kepresidenan, Habibie kembali ke Jerman dan tinggal di sana. Pada masa kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, dia diminta untuk kembali ke Indonesia dan dijadikan sebagai Penasihat Presiden. Saat itulah dia mendirikan Habibie Center.

Meski jabaatan yang dia emban sebagai presiden hanya selama 517 hari, tepatnya pada 21 Mei 1998 sampai dengan 20 Oktober 1999, namun cukup banyak penghargaan yang diperoleh Habibie, salah satunya adalah penghargaan “Lifetime Achievement Award” dari Komisi Pemilihan Umum.

Begitu juga dengan penghargaan yang dia peroleh dari luar negeri, jumlahnya juga cukup  banyak, dua diantaranya adalah “Das Grosse Verdienstkreuz” dan “Das Grosse Verdenstkreuz Mit Stern und Schulterband” yang diberikan Pemerintah Republik Federal Jerman. Penghargaan tersebut diperoleh Habibie karena telah berjasa pada pemerintahan Jerman baik di bidang teknologi, politik maupun sosial.

Kini Habibie telah berpulang. Pada hari ini, Rabo, 11 September 2019 pukul 18.03 WIB, Bacharuddin Jusuf Habibie telah dipanggil untuk menghadap Allah SWT. Namun demikian, nama besarnya akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia dan tertoreh dalam catatan panjang sejarah negeri ini. (AGK)   

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.