Press "Enter" to skip to content

Rakyat Pro-Demokrasi Gunakan Taktik Protest Baru!

  •  
  •  
  •  
  •  

“Glory to Hong Kong”, menjadi anthem baru perjuangan rakyat Hong Kong melawan Beijing
Bermacam cara digunakan rakyat Hong Kong memprotes pemerintahan eksekutif pro Beijing. Mulai dari yang konvensional dengan melakukan long-march di jalan

dan di depan kantor pemerintahan, bergerilya di setiap stasiun metro, melakukan mogok kerja, bahkan hingga mogok kuliah dan sekolah yang dilakukan oleh para pelajar.

Kali ini mereka menggunakan taktik baru lagi. Ribuan rakyat Hong Kong memenuhi pusat perbelanjaan membentuk rantai manusia dari setiap lantai dan menyanyikan “Glory to Hong Kong”. Hal ini dilakukan di beberapa pusat perbelanjaan dan karaoke sebagai bentuk protest dan marah atas ketidakpedulian pemerintah eksekutif terhadap tuntutan mereka beberapa bulan lalu.

Lagu itu ditulis secara anonim dan telah diadopsi sebagai lagu bagi pengunjuk rasa. Liriknya mencerminkan sumpah para pemrotes untuk tidak menyerahkan kepada pemerintah hingga proses reformasi demokrasi Hong Kong berjalan sempurna.

Di New Town Plaza di distrik Sha Tin, sekitar 2000 orang menyebar di beberapa tempat sebelum menyanyikan lagu “Glory to Hong Kong”. Mereka bernyanyi secara emosional, dengan beberapa menangis dan banyak yang mengangkat tangan mereka ke atas seolah berdoa. Kerumunan termasuk keluarga dengan anak-anak kecil, pelajar dan warga negara senior, banyak dari mereka tidak lagi mengenakan topeng, seperti yang dilakukan para demonstran.


Pusat perbelanjaan tersebut termasuk satu yang tersibuk di Hong Kong, terhubung langsung ke stasiun kereta bawah tanah di mana mereka hari Minggu lalu ditembak gas air mata oleh aparat.

Media lokal Hong kong menunjukkan ribuan lainnya bernyanyi setidaknya di empat pusat perbelanjaan lain, serta di beberapa tempat termasuk di luar stasiun kereta bawah tanah.

Lagu Kebangsaan China di Stadiun Sepakbola

Hal lain terjadi saat Hong Kong menjamu Iran Selasa kemarin pada pertandingan sepakbola kualifikasi piala dunia. Penonton pendukung Hong Kong mengejek dan menyoraki lagu kebangsaan China yang dikumandangkan sebelum pertandingan.

Baca juga: Bukti Baru Praktik Predatory Pricing Semen China yang Mengancam Industri Semen Indonesia
Para pengunjuk rasa menginginkan adanya pemilihan langsung untuk para pemimpin kota dan akuntabilitas polisi. Mereka tidak puas dengan sistem otonomi Hong Kong yang semakin terkikis oleh pengaruh Beijing sejak negeri itu dikontrol China pada tahun 1997.

Sumber: abcnews.go.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.