Press "Enter" to skip to content

Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau, Jerat Satu Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Tersangka

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo dan jajarannya saat konferensi pers

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau yang sudah berlangsung sekitar 7 bulan, tepatnya sejak bulan Pebruari 2019 yang lalu dan

hingga kini masih belum bisa dipadamkan, tidak hanya menyeret 27 orang tersangka perorangan, tapi juga menjerat satu perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Dijadikannya perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut sebagai tersangka, disampaikan oleh Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo pada konferensi pers hari Jumat, 9/8/2019 di lokasi karhutla, Jalan Air Hitam, Kecamatan Payung, Kota Pekanbaru, Riau.

Korporasi berinisial PT SSS yang berlokasi di Kabupaten Pelalawan ini ditetapkan sebagai tersangka setelah melalui proses penyelidikan cukup panjang yang dilakukan penyidik Polres Pelalawan yang didukung Dit Reskrimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus) Polda Riau.

“Setelah alat bukti cukup ditambah keterangan dari ahli, maka kita tingkatkan ke tahap penyidikan. Dan saat ini sedang berproses. Direksi PT SSS juga sudah kita lakukan pemeriksaan,” terang Widodo.

Ditetapkannya PT SSS sebagai tersangka karena dianggap lalai dalam menjaga lahannya sehingga lahan gambut yang ada di areal milik perusahaan tersebut mengalami kebakaran.

“Luas lahan perusahaan yang terbakar 150 hektare. Mereka lalai dalam mengelola hutan lahannya, sehingga timbul kebakaran,” ungkap Widodo.

Kapolda Riau ini juga menyampaikan bahwa dalam upaya menindak para pelaku karhutla, Polri tidak bisa diintervensi atau ditekan oleh siapapun. “Polri dalam hal ini Polda Riau, tidak bisa ditekan oleh siapapun. Tidak bisa didikte oleh pihak manapun untuk menunjukkan ahli itu, anu, sana, sini, tidak. Kita di sini kerja profesional. Masyarakat boleh menuntut, Pak ini, itu. Tetapi kita lakukan penyelidikan, kita menetapkan PT SSS ini sebagai tersangka, sudah melewati tahapan-tahapan penyelidikan dan menyertakan ahli di dalamnya,” kata Widodo.

Kabut asap karhutla di ruas jalan lintas Pelalawan-Pekanbaru, Riau

Widodo juga menyampaikan bahwa penetapan tersangka kasus perorangan tidak sama prosesnya dengan korporasi. “Untuk menetapkan korporasi sebagai tersangka berbeda dengan perorangan. Butuh proses penyelidikan yang cukup panjang.”

Tentang proses penyelidikan yang cukup panjang tersebut, menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Pol Gideon Arif Setiawan, memakan waktu sekitar 6 bulan.

“Terbakarnya lahan PT SSS tersebut sejak bulan Pebruari 2019. Sampai sekarang masih terus dilakukan pendinginan. Sejak lahan tersebut terbakar, sudah kita lakukan penyelidikan,” papar Gideon.

Melalui penyelidikan yang panjang itulah PT SSS akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan direktur utama PT SSS dengan inisial EE sudah diperiksa sebagai saksi, begitu juga dua orang perusahaan berinisial SG dan OH.

Dampak dari karhutla di Riau sepanjang tujuh bulan terakhir memang sangat luar biasa. Karena sebanyak 30.000 hektar hutan dan lahan sudah dilalap api. Bahkan kobaran api juga melalap 20 hektar hutan dan lahan yang ada di TNTN (Taman Nasional Tesso Nilo) yang ada di Kabupaten Pelalawan. Sebagaimana diketahui TNTN merupakan rumah bagi habitat harimau sumatera, gajah sumatera serta beruang.

Tidak hanya itu, akibat karhutla proses belajar mengajar di sekolah-sekolah terganggu dan banyak masyarakat yang terserang ISPA (Inveksi Saluran Pernapasan Akut) akibat kabut asap yang tebal. Salah satu yang terkena ISPA tersebut adalah Gubernur Riau Samsuar. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.