Press "Enter" to skip to content

Prancis Wajibkan Gunakan Masker, Tapi Tetap Larang Burqa dan Niqab!

  •  
  •  
  •  
  •  
Prancis wajibkan kenakan masker, namun tetap larang burqa dan niqab.

Mulai Senin 11/5, semua orang di Perancis sekarang harus memakai masker di depan umum untuk menghindari penyebaran corona virus secara meluas.

Namun, burqa, niqab, dan penutup wajah dan kepala yang berhubungan dengan keagamaan tetap dilarang. Hal ini menyalakan kembali perdebatan tentang larangan pemerintah tahun 2010 tentang kebebasan beragama.

Perancis mewajibkan penggunaan masker wajah di depan umum bersamaan dengan dengan pelonggaran lockdown terkait virus corona secara bertahap, yang dimulai Senin kemarin.

Di bawah aturan baru ini, orang sekarang dapat melakukan perjalanan 60 mil dari rumah, dan beberapa bisnis dan sekolah dapat dibuka kembali. Namun, bar dan restoran – yang telah ditutup pada 17 Maret – tetap tertutup.
Mereka yang menggunakan transportasi umum, memasuki toko-toko tertentu, atau menghadiri sekolah sekarang harus mengenakan masker, kata pemerintah.

Pada 2010, pemerintah Prancis memberlakukan larangan penutup kepala Muslim, yaitu burqa atau niqab. Mereka yang mendukung menyatakan RUU itu melindungi kesetaraan gender dan martabat perempuan, dan mendorong asimilasi ke dalam budaya Prancis sekuler. Para kritikus melihatnya sebagai serangan terhadap kebebasan beragama.


Melanggar hukum dapat menghasilkan denda 150 Euro dan/atau diharuskan berpartisipasi dalam apa yang disebut pendidikan kewarganegaraan Prancis.

Namun undang-undang 2010 menyatakan bahwa penutup wajah diizinkan “jika dibenarkan karena alasan kesehatan.”

Ketika ditanya apakah peraturan masker coronavirus mempengaruhi undang-undang 2010, kementerian dalam negeri Prancis mengatakan kepada The Washington Post: “Memakai masker dimaksudkan untuk mencegah risiko penularan coronavirus bukan merupakan pelanggaran pidana.”

Tetapi beberapa Muslim dan pendukung hak asasi manusia bereaksi menyatakan ironi terhadap aturan baru tersebut.

“Bahkan dalam menghadapi pandemi global, Prancis tidak akan mengakui larangan burqa fanatiknya itu salah,” Qasim Rashid, seorang kandidat Muslim untuk Kongres di distrik pertama Virginia, tweeted pada hari Minggu.


Fatima Khemilat, seorang rekan di Institut Ilmu Politik Aix-en-Provence, mengatakan kepada Washington Post: “Jika Anda seorang Muslim dan Anda tutup wajah Anda karena alasan agama, Anda akan dikenakan denda dan kursus kewarganegaraan tempat Anda akan diajarkan apa artinya menjadi ‘warga negara yang baik.’ ”

“Tetapi jika Anda adalah warga negara non-Muslim dalam menghadapi wabah ini, Anda didorong dan dipaksa sebagai ‘warga negara yang baik’ dan mengadopsi ‘aksi penutup wajah’ untuk melindungi komunitas nasional (dari wabah corona).”

Kenneth Roth, direktur eksekutif Human Rights Watch, menuliskan dalam akun twitternya: “Bisakah Islamofobia menjadi lebih transparan? Pemerintah Prancis mewajibkan masker tetapi masih melarang burqa.”

Sumber: www.businessinsider.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.