Press "Enter" to skip to content

Posts published in “Information”

Sosok Baru “Ayam Jantan Dari Timur” Bumi Nusantara

Ayam Jantan Dari Timur
Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang)

Siapa yang tidak kenal dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur“? Semua orang Indonesia paham artinya. Sebuah julukan yang disematkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang kala itu menjajah nusantara. Belanda melalui perusahaan konsorsium dagang raksasanya, Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang didirikan pada 20 Maret 1602, telah menghisap kekayaan dan sumber alam negeri ini. Perang dan pertumpahan darah terjadi dimana-mana. Ada banyak cerita kepahlawanan dan pengkhianatan. Namun pada akhirnya, sejarah menyebutkan penjajahan oleh konsorsium dagang Belanda ini berjalan ratusan tahun. Nusantara mengalami kemunduran budaya dan peradaban yang parah.

Semenjak ekspedisi kapal yang dipimpim Cornelis de Houtman mendarat pada tahun 1596 di Nusantara, mereka melihat kekayaan negeri ini terutama rempah-rempah yang sangat luar biasa dan sangat menguntungkan untuk di eksploitasi. Setelah Inggris mendirikan serikat dagangnya 31 Desember 1600 (The British East India Company) di Kalkutta India, Belanda pun tak ketinggalan. Sekembalinya de Houtman ke Belanda, maka dua tahun setelah Inggris mendirikan serikat dagangnya di India, VOC pun berdiri.

VOC Konsorsium Dagang Yang Memiliki Tentara

VOC bukan serikat dagang biasa. Perusahaan konsorsium ini disamping berdagang juga berhak memiliki tentara dan bernegosiasi dengan negara lain. Hal ini menyebabkan posisi bumi nusantara saat itu hanya sebagai objek bancakan untuk diperas sumber daya alamnya, dipekerja-paksakan sumber daya manusianya, tanpa harus tahu hasil kekayaannya untuk apa dan dibawa kemana.

Illustrasi kedatangan kapal ekspedisi Cornelis de Houtman 1596 ke Banten

Adalah I Mallombasi Muhamad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape, yang lahir di Makassar, pada 12 Januari 1631, hampir 30 tahun semenjak VOC mencengkram bumi nusantara. Ia adalah Putra dari Sultan Muhammad Said, Raja Gowa ke-15 yang naik tahta pada 1653 beberapa saat setelah sang ayahanda mangkat. Begitu ia menjadi Raja Gowa, maka ia pun bergelar Sultan Hasanuddin.

Baca juga:

Belanda menjajah dan merusak pemuda nusantara juga melalui candu.

Pada masa Sultan Hasanuddin berkuasa, VOC Belanda sudah menyebar laksana kanker bersama bala tentaranya ke penjuru nusantara. Termasuk Kerajaan Gowa. Bahkan, sebelum Sultan Hasanudin bertahta, Kerajaan Gowa sudah berperang dengan VOC yang hendak menguasai daerah dan sumber daya alam di Indonesia bagian timur.

Peperangan itu kemudian dilanjutkan Sultan Hasanuddin  menjadi lebih besar. Peperangan yang berlangsung dalam rentang 1666-1669 antara Kerajaan Gowa dan VOC tersebut dikenal dengan Perang Makassar. Perang yang sangat menyita energi dan perhatian Belanda ketika itu, sampai-sampai orang Belanda menyebut Sultan Hasaduddin “De haantjes van het Oosten” atau Ayam Jantan dari Timur.

Indonesia Butuh Pemimpin Seperti Sultan Hasanuddin Menghadapi “VOC” Era Baru

Nusantara masa kini. Indonesia. Penjajahan era modern sesungguhnya merupakan pengulangan serial penjajahan masa lalu. Pelakunya saja yang berbeda. Modus dan motifnya sama. Penguasaan sebuah bangsa untuk diambil kekayaan dan sumberdaya yang ada. Cara yang dilakukan juga persis sama. Divide et Impera. Devide and Conquer. Pecah-pecah dan taklukkan.  Taktik yang dibawa Julius Caesar ketika menguasai seluruh Eropa.

Pecah, taklukkan, kuasai. Sebuah kekuatan besar, negeri besar seperti Indonesia tidak akan dengan mudah dikalahkan. Negeri ini harus dipecah secara budaya, dicerai-berai secara agama, dipisah-pisah secara politik, dan dikelompok-kelompokkan berdasarkan sentimen daerah. Ketika negeri ini sibuk dan gaduh dengan sesama anak bangsa, saat itu pulalah agenda pihak-pihak yang hendak menancapkan kuku penjajahannya berjalan mulus.

Negeri ini tidak mau itu terjadi. Kita pernah punya sosok Tuanku Imam Bonjol bersama kaum paderi yang melawan keserakahan VOC Belanda ketika hendak menguasai Minangkabau. Sisingamangaraja XII Ompu Pulo Batu, Raja Tapanuli berusia muda benteng perlawanan ketika Perang Paderi berhasil dipadamkan.  Sebut saja Pangeran Diponegoro yang memberikan perlawanan pada saat yang sama dengan perlawanan kaum paderi di Minangkabau. Ada juga Sultan Ageng Tirtayasa yang bangkit berdiri menentang keberadaan VOC Belanda. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien yang gigih berjuang hingga baik VOC atau pun pemerintah hindia Belanda  tidak pernah betul-betul menguasai Negeri Rencong.

Baca juga: 2017 Ulama Di Nista, 2018 Ulama Di Puja!

Bangsa ini juga pernah memiliki Untung Surapati  yang hanya bisa ditumpas dan ditewaskan oleh pasukan koalisi tentara VOC Belanda dengan pengkhianat-pengkhianat negeri yang haus kekuasaan pada pertempuran Bangil selama bulan September – Oktober 1706. Saking marahnya VOC Belanda ketika itu, sampai-sampai makamnya dibongkar, diratakan dan jasadnya dibakar dan dibuang kelaut.

VOC Belanda berkuasa di bumi nusantara hingga 31 Desember 1799. Hampir 200 tahun lamanya. Selama itu pula kisah kepahlawanan, perlawanan, pengkhianatan, pertumpahan darah dan air mata membanjiri. Dan itu belum berakhir. Bubarnya VOC Belanda, hanya hiburan sesaat. VOC bubar karena bangkrut dan meninggalkan hutang 136,7 juta gulden. Satu penyebab utama adalah ketika membiayai perang melawan Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa.

Era pasca bubarnya VOC adalah era dimana kerja paksa dimulai. Era bayar hutang dan era dimana anak-anak bangsa ini dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan pemerintah kolonial Belanda.

Membaca sejarah berarti membuka kesempatan ranah fikiran untuk bisa menganalogikan apa yang terjadi saat ini di negeri ini. Kita perlu sosok tak kenal takut kepada konsorsium asing. Sosok yang berani melawan dan berjuang untuk kepentingan anak negeri. Anak negeri sendiri.

Negeri ini perlu Untung Suropati baru. Negeri ini perlu semangat perlawanan Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro. Negeri ini butuh pejuang seperti Sultan Ageng Tirtayasa. Negeri ini butuh kegigihan tiada banding pejuang-pejuang tanah Rencong. Negeri ini perlu memunculkan sosok Ayam Jantan Dari Timur yang baru. Seseeorang seperti Sultan Hasanudddin yang dicintai rakyat yang tidak pernah sekalipun berkhianat dan berpihak pada bangsa asing yang sedang mengangkangi tanah tumpah darahnya. Tidak perlu harus dari keturunan Raja Goa, tidak perlu harus ada silang silsilah dengan Untung Suropati. Mereka akan datang dari timur. Kala matahari menampakkan ufuknya.