Press "Enter" to skip to content

Kisah Soekarno Selamatkan Universitas Islam Al-Azhar Mesir

Universitas Al-Azhar
Universitas Al-Azhar – berdiri semenjak 970 Masehi

Barangkali kisah Soekarno menyelamatkan Universitas Islam Al-Azhar Mesir masih jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia. Namun, bagi warga Mesir, Soekarno adalah seorang penyelamat. Bahkan setelah puluhan tahun berselang, jasa Soekarno tetap dikenang.

Berkat Soekarno Universitas Al-Azhar Batal Ditutup

Jika berbicara mengenai Mesir, tak akan lepas dari Universitas Islam Al-Azhar. Perguruan tinggi yang telah dibangun sejak tahun 970 Masehi ini begitu melekat kuat dengan negeri Piramida, Mesir. Orang mengenal Mesir karena Al-Azhar, begitu pula sebaliknya.

Universitas Al-Azhar, tempat di mana orang-orang dari berbagai penjuru dunia menimba ilmua ini, tiba-tiba hendak ditutup oleh Presiden Gamal Abdel Nasser. Alasannya, karena Al-Azhar sering dijadikan sebagai markas rapat untuk melakukan tindakan kudeta terhadap pemerintahan. Hal tersebut tercermin dari gelagat sejumlah ulama Al-Azhar yang bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.

Meski baru sekadar rencana, tetapi kabar tersebut berembus begitu kencang layaknya tiupan angin. Yang paling terkena dampak adalah umat muslim. Mereka tidak mampu menutupi kesedihannya. Hal yang wajar mengingat, Al-Azhar adalah kebanggaan dan simbol umat muslim.

Kabar tersebut pun sampai di telinga Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Soekarno tidak tinggal diam, dalam kunjungannya ke Mesir ia langsung menemui Gamal Abdel Nasser dan bertanya mengenai alasan penutupan Al-Azhar.

“Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al-Azhar? Ya Gamal, Al-Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al-Azhar,” kata Soekarno kala itu.

“Ya, mau bagaimana lagi?” jawab Gamal.

“Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan. Anda wajib menata kembali Al-Azhar, mendukungnya, dan mengembangkannya, bukannya menutup,” imbuh Soekarno.

Percakapan singkat tersebut begitu membekas sehingga membuat Gamal Abdel Nasser mengurungkan niatnya dan mengamini pandangan Soekarno. Bahwa memang ada keterikatan kuat antara Mesir dengan Al-Azhar, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Kisah Soekarno Dijadikan Nama Jalan dan Peci Hitam

Berkat usulan Soekarno tersebut, hingga kini Universitas Al-Azhar tetap berdiri kokoh dan menjadi rujukan umat muslim untuk mempelajari ilmu keislaman. Soekarno pun mendapat gelar kerhormatan, doktor honoris causa yang dianugerahkan pada bulan April 1960.

Kisah Soekarno bukan saja menjadi simbol hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir, melainkan juga sebagai wujud nyata betapa Presiden pertama Republik Indonesia begitu dihargai dan dihormati oleh masyarakat Mesir. Pemerintah Mesir pun mengabadikan nama Soekarno sebagai nama jalan di Distrik Agouza, Kairo Barat, yakni Syari’ Ahmed Sokarno atau Ahmad Soekarno Street.

Selain dijadikan nama jalan, ada nama buah yang juga menggunakan nama Soekarno, yakni Mangga Soekarno. Konon nama tersebut disematkan lantaran, Soekarno lah yang pertama kali membawa bibit buah tersebut.

Soekarno begitu dicintai rakyat Mesir. Ia dikenal dengan peci hitamnya yang otentik. Jangan terkejut jika Anda datang ke Mesir dengan menggunakan peci hitam, orang-orang akan memanggil Anda dengan sebutan Ahmed Sokarno. Bahkan saking melekatnya peci hitam dengan sosok Soekarno, Presiden Gamal Abdel Nasser dan wakilnya, Anwar Saddat pernah mengenakan peci tersebut secara bergantian saat berfoto bersama Soekarno.

Mesir memang tak dapat lepas dari Indonesia, mengingat Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Tak ayal, Soekarno sangat menghormati Mesir. Hal yang sama pun berlaku. Rakyat Mesir menaruh rasa hormat pada Soekarno bahkan setiap kedatangannya, ia selalu disambut begitu meriah dan hangat.

Sebagai orang Indonesia, sudah sewajarnya kita patut berbangga karena pernah memiliki Presiden sehebat Soekarno yang buah pemikirannya membawa perubahan baik, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga dunia. Tak heran jika nama Soekarno begitu harum di negara Mesir. (efs)