Press "Enter" to skip to content

Jika Jokowi Berpasangan dengan Prabowo, Apa yang Terjadi?

Jokowi – Prabowo, mungkin?

Dalam politik, segala kemungkinan dapat terjadi, bahkan sesuatu yang sebelumnya dianggap impossible. Begitu juga dengan Pilpres 2019, semua masih serba mungkin hingga berakhirnya masa pendaftaran capres dan cawapres. Karena itulah mencuatnya wacana Jokowi – Prabowo maju dalam satu paket bukan hal yang mustahil, jika gelombang politik menyeret mereka dalam arus yang sama.

Adalah Ketua Umum PPP, Romahurmuzy yang pertama kali menghembuskan wacana tersebut pada 13/4/2018, di sela-sela pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama PPP yang bertempat di Hotel Patra, Semarang. Menurut pengakuannya, dia sempat ditanya oleh Jokowi soal gagasan untuk menggandeng Prabowo sebagai cawapres. Mendapat pertanyaan yang spontan tersebut, Romi mengaku terkejut sebelum akhirnya menyetujui.

Ada sejumlah alasan yang mndasari Romi untuk sepakat dengan ide Jokowi. Pertama, jika Jokowi menggandeng Prabowo maka akan ada aklamasi nasional, karena menurut hasil semua survei yang pernah dilakukan, nama keduanya tidak tertandingi oleh calon-calon yang lain. Kedua akan meminimalisir terjadinya perseteruan antar kedua kubu yang menimbulkan potensi terjadinya perpecahan di tengah-tengah masyarakat.

Masih menurut Romi, saat ide tersebut disampaikan kepada yang bersangkutan, Prabowo merasa terhormat jika mendapat tawaran dari Jokowi. Ketua Umum Partai Gerindra tersebut bahkan sempat mengirimkan utusan untuk menayakan kelanjutan dari apa yang disampaikan Jojkowi. Hanya saja, Jokowi masih belum dapat memberikan jawaban karena masih menunggu masukan dari para pimpinan parpol yang mendukungnya.

Apa yang disampaikan Romahurmuzy tersebut, tidak berapa lama kemudian dimentahkan oleh Andre Rosiade. Andre membenarkan bahwa Jokowi memang pernah menawari Prabowo  sebagai cawapres. Namun tawaran tersebut langsung ditolak oleh Prabowo. Sehingga tidak benar apa yang disampaikan Romi bahwa Prabowo menyambut positif tawaran Jokowi.

“Langsung ditolak oleh Pak Prabowo, karena yang dikehendaki rakyat adalah Pak Prabowo maju sebagai presiden,” tegas Andre. Ditambahkannya bahwa Prabowo maju sebagai capres bukan karena ambisi pribadinya, melainkan untuk mengubah  kondisi Indonesia.

Terlepas benar tidaknya apa yang disampaikan Romi, dalam politik segala sesuatu dapat terjadi. Hal tersebut tidak ditampik oleh para elite PKS yang sudah menyodorkan 9 nama kader PKS untuk dapat dipilih oleh Prabowo sebagai cawaprs.

Sehingga jika nantinya Prabowo memang berpasangan dengan Jokowi, maka langkah yang diambil oleh PKS adalah mencabut dukungannya kepada Prabowo dan akan mengusung calon lain untuk bertarung dengan petahana, demikian mnurut Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera.

“PKS tetap akan memberikan kontribusi pada Pilpres 2019 melalui kompetisi yang elegan, fair dan tangguh bagi Pak Jokowi dan partai yang mendukungnya,” tegas Mardani. (AGK)