Press "Enter" to skip to content

Posts tagged as “Kartini”

Menggugat Hari Kartini

Menggugat Hari Kartini

“Hari Kartini” adalah salah satu Hari Besar Nasional yang diperingati oleh  di lembaga-lembaga sekolah, instansi pemerintah dan beberapa instansi swasta di tanah air setiap tanggal 21 April. Pada saat itulah kaum wanita disibukkan dengan berdandan ala Kartini atau mengenakan busana tradisional serta menggelar berbagai lomba dan kermacam kegiatan.

Ditetapkannya tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, dimulai pada tanggal 2 Mei 1964, melalui Keputusan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, No.108. Artinya sudash 54 tahun lamanya  bangsa Indonesia memperingati hari lahir R.A. Kartini.

Tujuan utama dari peringatan tersebut adalah untuk mengenang jasa dari R.A. Kartini sebagai pelopor emansipassi wanita di Indonesia sekaligus melakukan refleksi agar kaum wanita Indonesia senantiasa memiliki rasa percaya diri untuk “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum pria”.

Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa sosok Kartini yang dijadikan figur Pahlawan Emansipasi dan apakah benar Kartini-lah yang menjadi pelopor emansipasi wanita di Indonesia?

Dengan tanpa ada niat untuk mendiskreditkan R.A. Kartini,  kita semestinya harus membalik lagi lembar-lembar sejarah perjuangan emansipasi wanita di Indonesia melalui sejumlah tokoh yang memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan derajat antara kaum pria dan wanita di Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui,  jauh sebelum Kartini lahir, di Aceh telah ada sosok wanita yang secara tidak langsung telah menumbuhkan benih-benih emansipasi melalui perlawanan yang dilakukannya terhadap penjajah Belanda.

Setelah Teuku Umaar, meninggal karena tertembak peluru Belanda, Cut Nyak Dien menggantikan peran suaminya memimpin rakyat Aceh untuk melakukan perlawanan terhadap Belnda.

Begitu dahsyatnya perang yang dikobarkan oleh Cut Nyak Dien, membuat Belanda kalang kabut, sampai akhirnya pahlawan wanita tersebut ditangkap dan dibuang ke Ssumedang, Jawa Barat.

Wajah emansipasi yang diussung oleh Cut Nyak Dien memang dalam bentuk perjuangan bersenjata dan bukan di bidang pendidikan.  Namun bukan berarti dirinya tidak layak untuk disebut sebagai pelopor emansipasi, karena apa yang telah dia lakukan telah memberi contoh kepada kaum wanita tentang kesetaraan gender.

Jika berbicara tentang perjuangan emansipasi wanita Indodnesia melalui bidang pendidikan, di Ineonesia juga bukan hanya R.A. Kartini. Ada nama Dewi Sartika (1134 – 1947) yang mendirikan Sekolah Keutamaan Istri pada tahun 1910 di Bandung.

Di Koto Gadang, Kab. Agam, Sumatera Barat juga terdapat pejuang wanita bernama Rohana Kudus (1884 – 1972) yang bergerak di bidang pendidikan untuk kaum wanita dengan mendirikan Sekolah Kerajinban Amal Setia pada tahun 1911 serta Rohana School pada tahun 1916. Artinya, Kartini bukan satu-satunya nama yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonersia di bidang penbdidikan.

Lantas, apakah peran R.A. Kartini lebih besar jika dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan wanita lainnyaa tersebut, sehingga untuk mempereingati Hari Emansipasi Wanita Indonesia digunakan nama “Hari Kartini”?

Sulit sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh emansipasi tersebut semuanya memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kesetaraan gender di Indonesia.

Baca juga: Suara #GantiPresiden2019 Bisa Pecah! Kenapa?

Hanya saja, jika mau jujur, peran dari tokoh-tokoh wanita lainnya, sebenarnya lebih konkrit dibandingkan dengan Kartini. Meskipun Kartini pernah mendirikan sekolah di sisi Timur pintu gerbang kompleks Kantor Kabupaten Rembang, namun dia hanya sempat mengajar selama 1 tahun karena sekitar setahun setelah mendirikan sekolah, Kartini meninggal dunia usai melahirkan anak pertamanya.

Peran Kartini terhadap emansipasi wanita Indonesia lebih karena buku fenomenal yang berisi kumpulan surat-suratnya yang diberi judul “Door Duisternis tot Licth” atau jika diterjemahkan secara bebas memiliki arti “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Jika buku tersebut yang dijadikan acuan untuk menetapkan R.A. Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita, maka memang layak untuk dikoreksi, karena Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebenarnya bukan ditulis oleh R.A. Kartini, melainkan oleh J.H. Abendanon.

Memang dalam pengantarnya, J.,H. Abendanon menyampaikan bahwa buku tersebut berisi kumpulan surat-surat Kartini, namun hingga kini bukti fisik dari surat-surat asli yang ditulis oleh Kartini tidak pernah dapat ditunjukkan pada orang lain. Dengan kata lain originalitas dari surat-surat Kartini yang dituangkan ke dalam buku, masih perlu dipertanyakan.

Dengan dasar-dasar itulah, ada sebagian pihak yang merasa kurang pas jika Hari Emansipasi Wanita Indonesia dinamakan Hari Kartini. (AGK)