Press "Enter" to skip to content

Posts tagged as “Kisah Soekarno”

Berkat Soekarno, Masjid Biru St. Petersburg Masih Berdiri dengan Kokohnya

Saint Petersburg Mosque

Pernahkah Anda mendengar tentang Masjid Biru Saint-Petersburg? Jika Anda berjalan-jalan ke Rusia, khususnya kota St. Petersburg, Anda akan menemukan sebuah masjid indah nan megah. Masjid yang identik dengan warna turquoise ini memiliki kubah yang khas dengan perpaduan desain Turki Utsami, Persia, dan Moor.

Keindahan masjid tersebut selalu sukses memukau siapa pun yang datang berkunjung ke Rusia. Namun, tahukah Anda bahwa masjid yang berada di pusat Kota St. Peterburg ini tidak akan dapat Anda nikmati keindahannya tanpa jasa Soekarno?

Apa hubungannya presiden pertama RI dengan Masjid Sankt-Peterburg? Berikut kisahnya!

Kesan Pertama Soekarno Melihat Masjid Biru Sankt-Peterburg

Kala hubungan Indonesia dengan Uni Soviet sedang hangat-hangatnya, Soekarno pernah bertandang ke negara yang dipimpin oleh Nikita Sergeyevich Krushchev tersebut. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah untuk membicarakan masa depan kerja sama bilateral dan kondisi Perang Dingin terus memanas.

Dalam kunjungannya, Soekarno menyempatkan diri untuk menikmati keindahan kota Leningrad (St. Petersburg). Kota yang terletak di delta Sungai Neva ini memang dikenal sangat cantik dengan gaya arsitektur Eropa Barat.

Saat berada di dalam mobil, Soekarno melihat bangunan unik yang menjulang tinggi. Soekarno sempat meminta sang sopir memutar jalan, tetapi diabaikan karena tidak adanya perintah dari pimpinan.

Akhirnya, Soekarno pun bertanya pada sopir yang mengantarnya, “Bangunan apa tadi itu?”

“Itu dulunya sebuah masjid,” jawab sang sopir.

“Kalau dulu masjid, sekarang digunakan untuk apa?”

“Oh… hampir semua gereja dan masjid saat ini menjadi gudang atau semacamnya.”

Pembicaraan singkat tersebut sempat membuat Soekarno tidak bisa tidur nyenyak. Soekarno selalu terbayang masjid dengan kubah biru yang dindingnya dibuat dari batu khusus. Dalam pikirannya, Soekarno menaksir bahwa masjid tersebut bisa menampung lebih dari tiga ribu umat muslim untuk melaksanakan salat.

Hari berikutnya, Soekarno ingin sekali kembali ke tempat di mana Masjid Biru berada. Namun, terhalang aturan protokoler. Alhasil, Soekarno pun hanya mengikuti jadwal yang telah disusun kemudian terbang kembali ke kota Moskow.

Permintaan Soekarno Pada Krushchev Terkait Masjid Biru Sankt-Peterburg

Saat tengah membahas kerja sama bilateral, Krushchev sempat bertanya pada Soekarno mengenai kesan selama berlibur ke Leningrad.

“Bagaimana kunjungan ke Leningrad tuan Presiden? Tentu sangat menyenangkan bukan?” tanya Krushchev.

“Rasanya saya belum pernah ke Leningrad,” jawab Soekarno yang sempat mengejutkan Krushchev.

“Tuan Presiden memang panda bertutur. Apa ada yang salah dengan Leningrad? Bukannya kemarin dua hari berjalan-jalan dengan sang puteri di sana?”

“Ya, kami memang berada di sana, tapi kami belum ke sana.”

“Kenapa begitu?”

“Karena kami tidak pernah diberikan kesempatan untuk menengok bangunan yang disebut Masjid Biru.”

Soekarno merasa sangat kecewa karena masjid tersebut dijadikan sebagai gudang. Ia pun menyampaikan rasa kecewanya pada Krushchev. Soekarno sangat berharap pemerintah Uni Soviet mau mengembalikan fungsi Masjid Biru Sankt-Peterburg agar dapat digunakan kaum muslim untuk beribadah.

Meski kemungkinan tersebut sangat kecil bahkan hampir mustahil, tetapi Soekarno tetap menyampaikan keinginannya tersebut.

Bertepatan dengan sepuluh hari kepulangan Soekarno ke Indonesia, Krushchev mengabulkan permintaan Soekarno. Secara resmi Krushchev telah mengeluarkan perintah untuk memfungsikan kembali Masjid Biru dan mengembalikannya pada kaum muslim tanpa syarat apa pun.

Baca juga: Jasa-jasa Soekarno Pada Dunia

Hal tersebut sontak membuat kaum muslim di St. Petersburg terkejut. Namun, merek pun sangat bahagia karena mendapatkan hadiah paling luar biasa berkat Soekarno. Tak heran jika Masjid Sankt-Peterburg kemudian dikenal dengan nama Masjid Soekarno. Tanpa jasa sang proklamator, barangkali masjid ini indah sudah menyatu dengan tanah layaknya tempat peribadatan lainnya. (efs)