Press "Enter" to skip to content

Posts tagged as “Serangan umum 1 Maret”

Serangan Umum 1 Maret, Tunjukkan Eksistensi TNI pada Dunia

 

Monumen Serangan Umum 1 MaretHari ini 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1949, terjadi serangan besar-besaran yang dilakukan pasukan TNI untuk merebut ibukota RI yang saat itu berada di Yogyakarta dari tangan Belanda. Dalam serangan yang kemudian dikenak dengan nama Serangan umum 1 Maret tersebut, Jogja berhasil diduduki meski hanya 6 jam. Namun, waktu yang singkat tersebut sudah berhasil membuka mata dunia tentang eksistensi TNI dan keberadaan negara Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Sebagaimana diketahui, Indonesia yang baru merdeka dipaksa untuk menandatangani perjanjian Renville, seiring dengan masuknya Tentara Sekutu usai menaklukkan Jepang pada Perang Dunia II. Pasukan Sekutu yang masuk ke Indonesia tersebut diboncengi oleh Tentara Belanda (NICA). Akibat dari perjanjian Renville tersebut, Ibukota Pemerintah Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

Namun, kesepakatan damai melalui perjanjian Renville tersebut pada bulan Desember 1948 dilanggar oleh Belanda dengan menyerang dan menduduki Yogyakarta yang dikenal dengan peristiwa Agresi Militer Belanda II. Bersamaan dengan itu, Belanda juga melakukan propaganda ke seluruh dunia dengan mengatakan bahwa Indonesia telah hancur dan sudah tidak memiliki organisasi militer.

Jenderal Soedirman sedang Menasihati Letnan Komarudin Sebelum Terjasinya SU 1 Maret 1949

Untuk meyakinkan dunia internasional, utamanya Amerika dan Inggris, Letkol Williater Hutagalung yang menjabat sebagai Perwira Teritorial sekaligus dokter pribadi Jenderal Soedirman memiliki gagasan untuk melakukan serangan besar-besaran serta menduduki Yogyakarta agar UNCL (United Nations Commision for Indonesia), pengamat militer dari PBB serta wartawan-wartawan asing yang ada di Indonesia tahu bahwa Indonesia masih kuat dan masih memiliki organisasi militer (TNI). Dengan demikian akan dapat memperkuat posisi Indonesia pada perundingan yang berlangsung di Dewan Keamanan PBB.

Gagasan Letkol Hutagalung disampaikan kepada Jenderal Sudirman dan Panglima Besar menyetujui gagasan tersebut. Bersamaan dengan itu, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mengirimkan surat kepada Jenderal Soedirman yang isinya meminta agar dilakukan serangan terhadap Yogyakarta.

Sudah barang tentu permintaan Hamengku Buwono IX langsung disetujui dengan meminta kepada Sri Sultan untuk melakukan koordinasi dengan Letkol Soeharto yang menjabat sebagai Komandan Brigade 10/Wehrkreise III.

Setelah melakukan persiapan yang matang, pada tanggal 1 Maret 1949, bersamaan dengan terdengarnya bunyi sirine yang menandakan waktu tepat pukul 06.00 atau berakhirnya jam malam, sebanyak 2.500 gerilyawan TNI dibawah pimpinan Letkol Soeharto, melakukan serangan besar-besaran di jantung kota Yogyakarta.

Pasukan TNI yang Hendak Berangkat Menuju Yogyakarta untuk Melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949

Pertempuran sengitpun terjadi di setiap sudut dan ruas jalan di Kota Yogyakarta. Belanda yang tidak menyadari akan dikepung oleh pasukan TNI dari berbagai penjuru kota merasa terkejut dan tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti, sehingga berhasil dipukul mundur dan meninggalkan pos militernya.

TNI pun berhasil menduduki ibukota Yogyakarta. Beberapa kendaaraan artileri berat dan sejumlah persenjataan milik tentara Belanda berhasil dirampas. Sebelum akhirnya Letkol Soeharto memerintahkan seluruh pasukan TNI meninggalkan kota Yogyakarta untuk kembali ke pangkalan Gerilya, tepat pukul 12.00, atau setelah 6 jam menduduki Yogyakarta.

Kemenangan pasukan TNI tersebut dengan cepat menyebar dan terdengar di seluruh dunia termasuk ke Washington D.C., Amerika Serikat yang menjadi tempat berlangsungnya sidang Dewan Keamanan PBB yang diikuti oleh perwakilan Indonesia. Melalui Serangan Umum 1 Maret, posisi Indonesia pun semakin kuat dalam perundingan dengan Dewan Keamanan PBB.

Keberhasilan pasukan TNI menduduki Yogyakarta selama 6 jam, menjadi bukti bahwa kekuatan TNI masih utuh dan Indonesia masih menjadi negara yang berdaulat, tidak seperti yang sebelumnya dipropagandakan oleh Belanda bahwa Indonesia sudah tidak lagi memiliki kekuatan sehingga Belanda berhak untuk kembali menguasai wilayah Indonesia. (AGK)